kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.805.000   -25.000   -0,88%
  • USD/IDR 17.310   97,00   0,56%
  • IDX 7.379   -163,01   -2,16%
  • KOMPAS100 1.004   -27,06   -2,62%
  • LQ45 716   -20,09   -2,73%
  • ISSI 267   -5,87   -2,15%
  • IDX30 393   -8,15   -2,03%
  • IDXHIDIV20 483   -9,27   -1,88%
  • IDX80 112   -3,07   -2,66%
  • IDXV30 140   -1,20   -0,85%
  • IDXQ30 126   -2,76   -2,14%

Kebutuhan Investasi EBT Capai US$ 500 Miliar, Ekonom: Perlu Kepastian Regulasi


Kamis, 23 April 2026 / 17:24 WIB
Kebutuhan Investasi EBT Capai US$ 500 Miliar, Ekonom: Perlu Kepastian Regulasi
ILUSTRASI. SIG akselerasi dekarbonisasi dan transisi energi hijau untuk operasional pabrik-pabrik di Tuban (SIG/Dok)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah tengah membuka peluang investasi hijau secara luas guna mengakselerasi pengembangan energi bersih di dalam negeri. Tak main-main, kebutuhan investasi di sektor ketenagalistrikan untuk mendukung transisi energi ini diperkirakan menembus angka US$ 500 miliar.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai, eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu krisis energi global seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat transisi ke energi baru terbarukan (EBT). 

"Langkah ini sudah tepat, walau sebenarnya agak terlambat," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (23/4/2026).

Baca Juga: Skema Restrukturisasi Utang Whoosh Rampung, Tunggu Pengumuman Pemerintah

Wijayanto menekankan, daya tarik investasi di sektor kelistrikan sangat bergantung pada kepastian regulasi. Ia mencatat, pengalaman masa lalu terkait kebijakan harga beli listrik EBT oleh PLN yang sempat lebih murah 25% dibandingkan energi fosil telah meninggalkan preseden buruk bagi investor.

"Kali ini, selain memastikan kebijakan yang ramah bagi investor, Pemerintah juga harus berupaya ekstra untuk meyakinkan para investor yang dulu pernah dikecewakan," tegasnya. 

Menurutnya, perbaikan kebijakan di akhir periode pemerintahan sebelumnya perlu diperkuat agar investor tidak lagi patah arang untuk masuk ke pasar Indonesia.

Namun, ia menggarisbawahi sejumlah tantangan klasik yang masih membayangi, mulai dari salah persepsi masyarakat terhadap proyek EBT seperti geotermal, hingga masalah harmonisasi kebijakan pusat hingga daerah serta gangguan premanisme di lapangan. 

"Ini perlu penegakan hukum yang tegas dan tanpa pandang bulu," imbuhnya.

Terakhir, Wijayanto menyoroti rendahnya harga energi konvensional akibat subsidi yang membuat nilai keekonomian EBT menjadi kurang kompetitif. Ia menyarankan agar pemerintah mulai mengalihkan sebagian subsidi energi fosil. 

"Ada baiknya jika subsidi dikurangi untuk dialokasikan pada upaya pengembangan dan investasi EBT," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×