kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45927,64   6,18   0.67%
  • EMAS1.325.000 -1,34%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kelebihan Pasokan Jadi Tantangan bagi Industri Semen Indonesia


Rabu, 04 Oktober 2023 / 10:23 WIB
Kelebihan Pasokan Jadi Tantangan bagi Industri Semen Indonesia
ILUSTRASI. Kelebihan pasokan atau oversupply semen masih menjadi tantangan besar bagi pabrikan semen di Indonesia.?KONTAN/Fransiskus Simbolon/06/01/2017


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mengungkap kondisi kelebihan pasokan atau oversupply semen masih menjadi tantangan besar bagi pabrikan semen di Indonesia.

Corporate Secretary PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Dani Handajani yang mengatakan utilisasi pabrik secara rata-rata di kisaran 55-60% saja. 

Pernyataan Dani ini didukung pula oleh data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang mencatatkan data produksi semen pada semester I-2023 sebesar 29,3 juta ton, dengan kebutuhan semen nasional mencapai 28 juta ton. Sedangkan, produksi semen sepanjang tahun 2022 lebih dari 64 juta ton, dengan kebutuhan sekitar 63 juta ton.

Kondisi kelebihan pasokan industri semen pun tercatat terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, kecuali Bali-Nusa Tenggara dan Maluku-Papua. Dengan persentase terbesar terjadi di Pulau Jawa, yaitu lebih dari 55,4%.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Begini Respon Indocement Tunggal Prakarsa (INTP)

Dari sisi perseroan, ia berharap Pemerintah untuk serius dan segera menerapkan Moratorium terkait pembangunan Pabrik semen baru. Karena saat ini sudah ada 15 perusahaan semen terintegrasi yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua, dengan total kapasitas terpasang sebesar 116 juta ton per tahun.

“Kami mencoba untuk mencari pasar baru dengan melakukan ekspor klinker dan semen, baik dari pabrik Maros (Sulawesi Selatan) yang kami sewa dari Semen Bosowa dan juga pabrik di Tarjun Kalimantan Selatan yg memungkinkan kami untuk mengekspor semen ke Brunei Darussalam, Australia, Bangladesh, dan negara-negara Asia lainnya,” ungkap Dani saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (3/10).

Meski masih bergulat dengan permasalahan over capacity, Dani mengungkap kinerja perseroan setelah lewat satu semester kemarin, bisa dikatakan cukup baik. 

Di tahun ini, Indocement telah menyerap anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 363 miliar dari total anggaran Rp 1,2 triliun pada 2023. 

“Dana capex ini telah kami gunakan antara lain untuk renovasi Terminal Semen Samarinda serta untuk penambahan peralatan hotdisc untuk menambah kapasitas konsumsi bahan bakar alternatif,” jelasnya.

Baca Juga: Sepanjang 2023, Volume Penjualan Semen Indocement (INTP) Diyakini Naik 4%

Hingga kini Indocement telah memproduksi dan menjual beberapa jenis dan merek semen. Diantaranya adalah Semen Tiga Roda dengan tipe semen ordinary portland cement (OPC) jenis I, II, dan V.

Kemudian ada pula semen portland komposit (portland composite cement/PCC), semen sumur minyak (oil well cement/OWC), semen putih, semen hidrolik, dan semen slag.

“Kami juga memiliki dua merek lain yaitu Semen Rajawali dan Semen Jempolan. Selain semen, kami juga menjual mortar atau semen siap pakai yang terdiri dari Mortar TR-10, TR-15, TR-20, dan TR-30,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×