kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45786,44   -4,02   -0.51%
  • EMAS1.008.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.34%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Kilang Pertamina di Plaju produksi bahan pelengkap produk kesehatan dan kecantikan


Minggu, 18 Oktober 2020 / 13:51 WIB
Kilang Pertamina di Plaju produksi bahan pelengkap produk kesehatan dan kecantikan
ILUSTRASI. Kilang Polypropylene Pertamina di Plaju, Palembang, Sumatera Selatan.


Reporter: Dimas Andi | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - PLAJU. Pelengkap perawatan kesehatan dan kecantikan seperti hair spray, dry shampoo, penyegar wajah, parfum, dan lainnya yang digunakan dengan cara disemprotkan mengandung Hydrocarbon Aerosol Propellant (HAP) agar cairan menyebar rata. HAP merupakan salah satu produk turunan dari gas yang dihasilkan Kilang PT Pertamina (Persero), salah satunya Refinery Unit III Plaju.

Selain dua produk tersebut, HAP juga digunakan dalam produk pembunuh kuman, serangga, cat semprot, dan lain-lain. Pada masa pandemi saat ini, banyak produk pembunuh kuman dan mikroorganisme sebagai antisipasi penularan virus Covid-19.

HAP sebagai varian produk gas domestik merupakan gas pendorong atau aerosol ramah lingkungan yang mendukung kebijakan pemerintah dalam mengatasi pemanasan global. HAP murni dibuat dari bahan alam dan tidak berpotensi dalam penipisan lapisan ozon.

Baca Juga: Pertamina: Realisasi BBM penugasan kini bisa diakses publik

Sebelum ada HAP, produk gas pendorong yang digunakan adalah CFC atau kloroflourkarbon yang dinilai dapat merusak lapisan ozon.  Namun, pada tahun 2015 CFC tidak diperbolehkan lagi beredar setelah dikeluarkannya protokol Montreal.

HAP yang diproduksi Kilang RU III Plaju tersedia dalam berbagai jenis dengan spesifikasi yang disesuaikan dengan kelompok industri penggunanya.  Misalnya, HAP-32 digunakan untuk industri parfum dan korek api gas, HAP-39 untuk industri hair spray, HAP-42 untuk industri air freshner, HAP-52 untuk indsutri insektisida, dan HAP-85 untuk industri cat semprot yang menggunakan propellant sebagai pendorong produk aerosol.

“HAP merupakan produk gas berasal dari crude yang diolah di Crude Distiller Units (CDUs) kemudian masuk ke Gas Plant Unit. Setelah melewati sejumlah proses, produk gas dari pengolahan kilang menghasilkan LPG, Musicool, dan HAP,” jelas Region Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Sumbagsel Dewi Sri Utami dalam siaran pers di situs Pertamina, Sabtu (17/10).

Dewi menambahkan  rata-rata produksi HAP di Kilang Plaju sebesar 10 ton–15 ton per bulan. HAP tersebut disalurkan ke Depot LPG Pulau Layang yang berada di bawah Marketing Operation Region II Sumbagsel.

Pada masa pandemi Covid-19, produk HAP termasuk yang mengalami peningkatan permintaan seiring dengan melonjaknya produk sanitasi baik itu hand sanitizer, disinfektan, dan produk cair lain yang memerlukan propellant aerosol sebagai pendorong.

“Produksi HAP menyesuakan permintaan. Apabila permintaan berkurang, maka akan diolah menjadi LPG atau Musicool bahan pendingin AC,” kata Dewi.

 

Selanjutnya: Pertamina: Produksi Pertamax di Kilang Cilacap naik

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×