kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Kinerja ekspor CPO terancam embargo terhadap Iran


Jumat, 10 Februari 2012 / 18:55 WIB
ILUSTRASI. Jet China


Reporter: Asnil Bambani Amri | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Penghentian ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia ke Iran oleh perusahaan perdagangan CPO di Singapura, dikhawatirkan bisa mempengaruhi kinerja ekspor CPO Indonesia.

"Meskipun ekspor CPO Indonesia ke Iran relatif kecil, namun hal itu bisa berdampak pada kinerja ekspor CPO," kata Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Jumat (10/2).

Meski tidak mengetahui volume ekspor CPO Indonesia ke Iran tahun 2011, namun Fadhil bilang, tahun 2010 lalu ekspor langsung CPO Indonesia ke Iran mencapai 41.000 ton. "Namun banyak juga yang diekspor CPO Indonesia ke Iran lewat negara ketiga seperti Singapura," terang Fadhil.

Guna mengantisipasi permasalahan itu, Fadhil berharap pada peningkatan ekspor CPO ke negara lainnya seperti China dan juga India.

Menteri Perdagangan, Gita Wiryawan tidak terlalu khawatir dengan terhentinya ekspor CPO ke Iran tersebut. Namun begitu, ia mengkhawatirkan dampak jangka panjangnya. "Saat ini damapaknya belum terlihat, tetapi untuk jangka panjang akan kami lihat," kata Gita.

Penghentian ekspor CPO ke Iran terjadi karena pengusaha CPO di Singapura khawatir tidak bisa melakukan transaksi dari pembelinya di Iran, pasca pemberlakuan embargo kebijakan keuangan oleh Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Eksportir CPO di Singapura khawatir, pembeli CPO di Iran tidak bisa melakukan transaksi letter of credit.

Menurut eksportir CPO di Singapura, Indonesia mengekspor sekitar 50.000 ton CPO per bulan ke Iran. Jika satu ton CPO tersebut dihargai US$ 1.000 per ton, maka dalam sebulan Indonesia berpotensi merugi US$ 50 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×