Reporter: Vina Elvira | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar properti residensial di kawasan penyangga Jakarta masih menunjukkan pertumbuhan pada semester I-2026.
Kondisi ini didorong sejumlah faktor yakni tingginya harga lahan di Jakarta dan pengembangan infrastruktur transportasi di wilayah Bodetabek.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, menilai Jakarta masih menjadi pusat aktivitas sehingga kebutuhan hunian di wilayah penyangga tetap tinggi.
“Saat ini, segmen menengah menjadi pasar yang senantiasa aktif di sektor hunian Jakarta, sementara itu, hunian vertikal saat ini memiliki segmen yang berbeda, kelas premium (atas) terus stabil pertumbuhan penjualannya,” ungkap Syarifah kepada Kontan.co.id, Senin (20/7/2026).
Baca Juga: REI: Permintaan Rumah di Kawasan Penyangga Jakarta Masih Solid hingga Akhir 2026
Syarifah menjelaskan, keterbatasan lahan dan kenaikan harga tanah di Jakarta membuat daya jangkau masyarakat terhadap hunian di ibu kota semakin terbatas.
Kondisi tersebut mendorong pertumbuhan kawasan penyangga seperti Bekasi serta Tangerang dan Tangerang Selatan yang terus menawarkan beragam konsep hunian.
Selain faktor harga, pengembangan infrastruktur juga menjadi katalis penting bagi pertumbuhan pasar residensial di kawasan penyangga.
Menurut Syarifah, pembangunan jaringan jalan tol, stasiun KRL, hingga kawasan berbasis transit oriented development (TOD) meningkatkan aksesibilitas sehingga semakin diminati masyarakat.
Knight Frank melihat wilayah cakupan hunian di sekitar Jakarta terus meluas dari wilayah Bodetabek Inti, yang kemudian berkembang sebagai kota mandiri ke wilayah yang lebih luas lagi.
Meski demikian, Bodetabek inti masih menjadi pilihan utama karena berbatasan langsung dengan Jakarta dan didukung infrastruktur yang lebih matang.
“Meskipun begitu, permintaan di Bodetabek Inti masih lebih tinggi karena berbatasan langsung dengan pusat Kota Jakarta dan infrastruktur yang sudah lebih mature, dengan ragam infrastruktur kota,” tuturnya.
Baca Juga: Ruang Kosong Perkantoran di Jakarta Capai 3 Juta Meter Persegi hingga Kuartal II-2026
Dari sisi harga, pasar residensial masih mencatatkan kenaikan meski relatif terbatas. Berdasarkan data Bank Indonesia, harga rumah segmen menengah hingga atas tumbuh sekitar 0,5% hingga 1,5%. Sementara itu, mengacu pada data Knight Frank, harga hunian vertikal kelas premium meningkat sekitar 0,5%.
Hingga akhir 2026, Knight Frank Indonesia masih melihat prospek positif bagi pasar rumah tapak di kawasan penyangga Jakarta. Dalam Survei Proyeksi Pasar Properti Indonesia 2026, rumah tapak di secondary cities atau kawasan penyangga menjadi salah satu tren properti yang diperkirakan tetap diminati sepanjang tahun.
Namun, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi, mulai dari kondisi ekonomi makro, pelemahan nilai tukar rupiah, tren lipstick effect, hingga ketidakpastian akibat konflik geopolitik yang masih berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
