Reporter: Vina Elvira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan rumah di kawasan penyangga Jakarta atau Bodetabek dinilai masih memiliki prospek yang positif hingga akhir 2026.
Namun, kenaikan harga properti, pelemahan daya beli, hingga perubahan preferensi konsumen menjadi tantangan yang perlu direspons pelaku usaha dengan berbagai strategi.
Wakil Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Bambang Ekajaya mengatakan, kondisi perekonomian saat ini mendorong kenaikan harga properti sehingga pasar semakin didominasi oleh rumah berukuran kecil agar harga tetap terjangkau bagi masyarakat.
"Dengan kondisi perekonomian seperti saat ini memang membuat harga-harga properti akhirnya harus menaikkan harga, sehingga membuat pasar properti lebih didominasi rumah-rumah kecil untuk membuat harga properti tetap terjangkau di kawasan-kawasan penyangga Jakarta," ujar Bambang kepada Kontan.co.id, Minggu (19/7/2026).
Baca Juga: Permintaan Rumah Suburban Naik, Hunian Terjangkau Jadi Incaran
Menurut Bambang, tren pengembangan kawasan hunian juga semakin bergeser ke wilayah pinggiran dengan mengedepankan konsep transit oriented development (TOD), khususnya KRL seperti di area Bekasi, Bogor, Tangsel dan sekitarnya.
Pergeseran tersebut membuat akses transportasi publik menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan calon pembeli.
Di sisi lain, kenaikan harga properti di kawasan Bodetabek sekitar 7,5% hingga 10% turut memengaruhi kemampuan beli masyarakat. Kondisi tersebut membuat pengembang perlu menawarkan berbagai insentif agar tetap dapat menarik minat konsumen.
Di samping itu, kondisi ini juga membuka peluang bagi pasar properti sekunder untuk tumbuh, terutama apabila harga yang ditawarkan masih berada di bawah harga pasar.
Baca Juga: Permintaan Hunian Urban Meningkat, Pacific Garden Ekspansi ke Segmen Rumah Tapak
Meski demikian, Bambang menilai prospek sektor perumahan secara umum masih cukup solid hingga akhir tahun, terutama untuk segmen rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
"Sebenarnya prospek properti khususnya perumahan tetap masih solid, khususnya rumah-rumah subsidi untuk MBR. Asal ketersediaan KPR subsidinya ada, konsumen tetap berminat beli. Apalagi saat ini ada perpanjangan tenor KPR sampai 40 tahun," jelasnya..
Sementara itu, untuk segmen rumah komersial non-subsidi, REI memandang perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga 2027 masih berpotensi mendongkrak penjualan. Dampaknya akan semakin besar apabila kebijakan tersebut juga mencakup rumah inden serta disertai penurunan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) untuk rumah non-subsidi.
“Apalagi jika PPN DTP diberlakukan untuk rumah indent juga, serta BPHTB rumah non-subsidi bisa diturunkan sampai 2,5%, akan mendorong pasar di saat daya beli juga menurun," pungkasnya.
Baca Juga: Keluarga Muda Masih Menopang Permintaan Rumah Tapak di Jakarta Barat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
