Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan tata kelola (governance) dan manajemen risiko jadi fondasi penting bagi peningkatan daya saing dunia usaha dan pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tingginya ketidakpastian global.
Untuk itu, kolaborasi lembaga nasional dan organisasi internasional perlu diperluas agar budaya manajemen risiko tidak hanya berkembang di korporasi, tetapi juga di dunia pendidikan dan masyarakat.
Hal ini mengemuka dalam Executive Roundtable yang digelar Veda Praxis bekerja sama dengan The Institute of Risk Management (IRM) di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Baca Juga: Risiko Siber Meningkat, Manajemen Identitas Jadi Kunci Keamanan Korporasi
Chief Executive Officer (CEO) Veda Praxis Syahraki Syahrir mengatakan kebutuhan terhadap kompetensi manajemen risiko di Indonesia terus meningkat, tetapi belum diimbangi dengan pendidikan yang memadai, terutama di perguruan tinggi.
"Selama 21 tahun berdiri, kami melihat salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah penguatan governance dan manajemen risiko. Di banyak universitas, pendidikan mengenai manajemen risiko masih sangat terbatas, padahal kebutuhan dunia bisnis sudah sangat besar," ujarnya, dalam keterangannya, Jumat (24/7/2026).
Melalui kemitraan dengan IRM, Veda Praxis ingin mendorong implementasi manajemen risiko secara lebih luas, tidak hanya di perusahaan tetapi juga di lingkungan akademik dan masyarakat.
"Harapannya adalah meningkatkan kapabilitas SDM sekaligus memperkuat kemampuan bisnis nasional. Jika manajemen risiko diterapkan dengan baik, ekonomi Indonesia juga akan semakin maju," katanya.
Ia juga berharap kolaborasi lintas sektor antara pelaku industri, institusi pendidikan, dan organisasi profesi bisa mempercepat terbentuknya budaya manajemen risiko lebih kuat di Indonesia, sehingga mampu meningkatkan daya saing bisnis nasional di tengah tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.
Sementara itu, GRC Partner Veda Praxis Dadan Gunawan menilai pemahaman mengenai manajemen risiko di Indonesia perlu diperkuat karena kerap dipandang sebagai disiplin yang terpisah dari proses bisnis.
Menurutnya, manajemen risiko sejatinya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola organisasi.
"Risk management bukan dunia yang berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari manajemen. Kalau kita memiliki governance baik, manajemen risiko harus menjadi bagian yang melekat di dalamnya," ujarnya.
Ia mengatakan edukasi mengenai manajemen risiko perlu dilakukan secara berkelanjutan kepada korporasi, institusi pemerintah, dan masyarakat agar semakin banyak organisasi mampu mengidentifikasi potensi persoalan sejak dini sebelum berkembang menjadi krisis.
"Jika kita mampu mengidentifikasi masalah dari awal, kita bisa mendesain solusi sebelum insiden terjadi. Banyak proyek maupun kebijakan akan jauh lebih efektif dan memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat," katanya.
Dadan menambahkan tantangan terbesar yang dihadapi pelaku usaha saat ini adalah tingginya ketidakpastian, mulai dari dinamika geopolitik, perubahan regulasi, hingga tekanan ekonomi global.
Namun, menurutnya, ketidakpastian tidak selalu menjadi ancaman apabila dikelola dengan pendekatan manajemen risiko yang tepat.
"Ketidakpastian justru bisa jadi peluang. Banyak negara mampu mengubah berbagai tantangan menjadi kekuatan karena memiliki manajemen risiko yang baik. Kita juga berada di jalur yang benar, tinggal membutuhkan konsistensi dan kolaborasi dalam membangun budaya tersebut," ujarnya.
Dari perspektif global, Head of Partnership Asia IRM Victoria Robinson mengatakan setiap negara memiliki tingkat kematangan manajemen risiko berbeda, tergantung karakteristik industri dan regulasi yang berlaku.
Ia menjelaskan sektor perbankan, jasa keuangan, dan asuransi umumnya memiliki penerapan lebih maju, tapi prinsip manajemen risiko sejatinya relevan bagi seluruh sektor usaha.
"Enterprise risk management adalah fondasi yang membuat bisnis bertahan dan berkembang. Semua industri membutuhkannya, mulai dari manufaktur, perhotelan, hingga teknologi," katanya.
Lewat kerja sama dengan Veda Praxis, IRM berharap dapat menggabungkan pengalaman global dengan pemahaman lokal untuk menghadirkan program pendidikan yang relevan bagi Indonesia dan kawasan ASEAN.
"Kami ingin mendengarkan kebutuhan pasar Indonesia, menggabungkan keahlian global dengan ahli lokal, lalu mengembangkan pendidikan yang membantu para profesional Indonesia menjalankan pekerjaannya dengan lebih baik dan mendukung pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Senada dengan itu, Head of IT & Digital Risk Group Bank Rakyat Indonesia Nugroho Pancayogo menegaskan setiap aktivitas bisnis pada dasarnya selalu berdampingan dengan risiko, sehingga kemampuan mengelolanya menjadi faktor utama keberlangsungan usaha.
"Bisnis pada dasarnya adalah mengelola risiko. Tidak ada bisnis tanpa risiko. Karena itu, jika ingin bisnis berjalan dengan baik, manajemen risiko harus menjadi prioritas," katanya.
Ia menilai penerapan manajemen risiko akan berjalan efektif jika telah dipahami dan menjadi budaya organisasi, mulai dari level operasional hingga jajaran manajemen puncak.
"Yang terpenting adalah seluruh lini organisasi, dari level paling dasar sampai top management, memiliki kesadaran yang sama untuk menjalankannya," ujar Nugroho.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














