kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Kompor Gas Lokal Siap Bersaing dengan Produk China


Kamis, 07 Januari 2010 / 09:19 WIB
Kompor Gas Lokal Siap Bersaing dengan Produk China


Reporter: Gentur Putro Jati |

AKARTA. Asosiasi Produsen Kompor Gas Indonesia (Apkogi) mengaku tidak khawatir dengan kemungkinan membanjirnya kompor gas buatan China di Indonesia pasca dibukanya keran perdagangan bebas (FTA) ASEAN-China sejak 1 Januari lalu.

Ketua Umum Apkogi Triantoni, berani menjamin bahwa kualitas kompor gas lokal jauh lebih baik ketimbang kompor gas buatan negeri Tirai Bambu.

"Memang harga kita masih lebih mahal dibanding buatan China. Tapi orang yang membeli kompor gas kan sangat mengutamakan faktor safety. Silakan saja membeli dengan harga murah, tapi cepat rusak atau bocor," kata Toni, Rabu (6/1).

Selain faktor kualitas, Toni juga memastikan bahwa kompor gas impor tidak akan pernah bisa memenuhi Standar Nasional Indonesia yang ditetapkan Departemen Perindustrian.

"Selain itu juga ada kewajiban Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk kompor gas sebanyak 47%. Nah, produksi anggota kita sudah mengandung TKDN lebih dari syarat minimum tersebut," tambahnya.

Saat ini anggota Apkogi tercatat sebanyak 42 perusahaan. 35 di antaranya rajin mengikuti pengadaan paket kompor gas sebanyak 42 juta unit yang menjadi program konversi minyak tanah ke elpiji oleh pemerintah sepanjang 2006 sampai 2009.

"Untuk 2010 diharapkan ada 10 juta unit kompor lagi yang di tenderkan. Selain menggarap pasar yang reguler, kami juga menggarap program konversi ini," kata Toni.

Namun Toni mengakui di luar pekerjaan pengadaan kompor gas satu tungku oleh PT Pertamina (Persero) tersebut, daya serap pasar dalam negeri jauh lebih rendah dibanding kemampuan kapasitas produksi produsen dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×