kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.788.000   -12.000   -0,43%
  • USD/IDR 17.705   37,00   0,21%
  • IDX 5.988   -107,31   -1,76%
  • KOMPAS100 788   -17,01   -2,11%
  • LQ45 607   -9,88   -1,60%
  • ISSI 210   -4,28   -2,00%
  • IDX30 347   -4,86   -1,38%
  • IDXHIDIV20 433   -5,57   -1,27%
  • IDX80 91   -1,82   -1,96%
  • IDXV30 119   -1,65   -1,36%
  • IDXQ30 113   -1,71   -1,48%

Kompor Gas Lokal Siap Bersaing dengan Produk China


Kamis, 07 Januari 2010 / 09:19 WIB


Reporter: Gentur Putro Jati |

AKARTA. Asosiasi Produsen Kompor Gas Indonesia (Apkogi) mengaku tidak khawatir dengan kemungkinan membanjirnya kompor gas buatan China di Indonesia pasca dibukanya keran perdagangan bebas (FTA) ASEAN-China sejak 1 Januari lalu.

Ketua Umum Apkogi Triantoni, berani menjamin bahwa kualitas kompor gas lokal jauh lebih baik ketimbang kompor gas buatan negeri Tirai Bambu.

"Memang harga kita masih lebih mahal dibanding buatan China. Tapi orang yang membeli kompor gas kan sangat mengutamakan faktor safety. Silakan saja membeli dengan harga murah, tapi cepat rusak atau bocor," kata Toni, Rabu (6/1).

Selain faktor kualitas, Toni juga memastikan bahwa kompor gas impor tidak akan pernah bisa memenuhi Standar Nasional Indonesia yang ditetapkan Departemen Perindustrian.

"Selain itu juga ada kewajiban Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk kompor gas sebanyak 47%. Nah, produksi anggota kita sudah mengandung TKDN lebih dari syarat minimum tersebut," tambahnya.

Saat ini anggota Apkogi tercatat sebanyak 42 perusahaan. 35 di antaranya rajin mengikuti pengadaan paket kompor gas sebanyak 42 juta unit yang menjadi program konversi minyak tanah ke elpiji oleh pemerintah sepanjang 2006 sampai 2009.

"Untuk 2010 diharapkan ada 10 juta unit kompor lagi yang di tenderkan. Selain menggarap pasar yang reguler, kami juga menggarap program konversi ini," kata Toni.

Namun Toni mengakui di luar pekerjaan pengadaan kompor gas satu tungku oleh PT Pertamina (Persero) tersebut, daya serap pasar dalam negeri jauh lebih rendah dibanding kemampuan kapasitas produksi produsen dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×