Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai menjajaki kerja sama dengan sejumlah negara di luar Timur Tengah untuk mengamankan pasokan bahan baku industri, khususnya nafta, di tengah ketatnya pasokan global.
Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Taufiek Bawazier, mengungkapkan komunikasi dengan calon mitra sudah berlangsung. Namun, ia belum dapat merinci negara yang terlibat karena masih bersifat sensitif.
“Pasti ada (komunikasi), tapi negaranya belum bisa kami sebut karena masih agak confidential,” ujarnya ditemui usai agenda pameran Indo Intertex Inatex 2026 di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Senada, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pemerintah membuka peluang kerja sama dengan berbagai negara produsen nafta sebagai alternatif sumber pasokan. Langkah ini dinilai penting mengingat selama ini impor nafta Indonesia masih didominasi dari kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Menperin Minta Produsen Plastik Turunkan Margin Harga Demi Bantu IKM
“Kalian lihat saja siapa produsen nafta, itu potensi dari calon supplier kita,” kata Agus.
Menurut politikus Golkar ini, kelangkaan bahan baku seperti plastik dan nafta saat ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga secara global. Kondisi ini memicu persaingan antarnegara dan pelaku usaha dalam mendapatkan pasokan.
Untuk itu, pemerintah mendorong pelaku industri lebih adaptif dalam menyusun strategi pengadaan bahan baku, termasuk memanfaatkan peluang pembelian dari pasar internasional di luar pemasok tradisional.
“Kalau ada ketersediaan plastik di luar negeri, ambil saja,” imbuhnya.
Baca Juga: Ekalya (ELPI) Akuisisi Kapal Offshore US$ 50 Juta, Perkuat Segmen Offshore
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa, menyebut sejumlah pelaku industri telah mulai memperoleh pasokan alternatif, meski dalam jumlah terbatas. Salah satunya berasal dari perusahaan energi Malaysia, Petronas.
“Dari anggota kita yang saya dengar, mereka sudah mendapatkan sebagian kecil dari Petronas, dari Malaysia,” ujarnya.
Ia menilai upaya pemerintah untuk membuka akses ke sumber bahan baku baru menjadi krusial di tengah ketidakpastian rantai pasok global. Pasalnya, industri dalam negeri mulai merasakan tekanan akibat terbatasnya pasokan bahan baku berbasis minyak bumi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













