kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.827.000   -10.000   -0,35%
  • USD/IDR 17.049   32,00   0,19%
  • IDX 7.048   -43,45   -0,61%
  • KOMPAS100 972   -4,90   -0,50%
  • LQ45 716   -1,68   -0,23%
  • ISSI 251   -1,25   -0,50%
  • IDX30 389   -0,10   -0,03%
  • IDXHIDIV20 487   -1,85   -0,38%
  • IDX80 110   -0,59   -0,54%
  • IDXV30 135   -0,95   -0,70%
  • IDXQ30 127   0,03   0,02%

Hadapi Gejolak Timur Tengah, Kemenperin Ajak Industri Efisiensi Energi & Gunakan LCT


Selasa, 31 Maret 2026 / 19:13 WIB
Hadapi Gejolak Timur Tengah, Kemenperin Ajak Industri Efisiensi Energi & Gunakan LCT
ILUSTRASI. Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief (dok kemenperin/Kemenperin)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyoroti dampak eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah terhadap industri manufaktur Indonesia. Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengungkapkan bahwa berdasarkan survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Maret 2026, dampak gejolak di Timur Tengah masih relatif terbatas pada sub sektor tertentu.

Sub sektor yang paling terdampak adalah industri yang mengandalkan bahan baku dari Timur Tengah serta yang rentan terhadap krisis logistik energi seperti pada industri petrokimia. Meski begitu, Febri menegaskan bahwa gangguan di industri hulu seperti petrokimia akan berdampak terhadap berbagai industri hilir pengguna produk akhir.

Febri mencontohkan tekanan yang sedang dialami oleh industri plastik berdampak terhadap pasokan dan harga kemasan di industri makanan dan minuman, maupun di industri pengguna plastik seperti otomotif. Dia menegaskan bahwa sampai saat ini industri hulu masih berproduksi dengan menggunakan persediaan bahan baku yang ada.

Hanya saja, telah terjadi penyesuaian di pasar yang antara lain dilakukan melalui kenaikan harga produk. Selain soal bahan baku, Febri mengingatkan bahwa gejolak geopolitik ini berdampak terhadap krisis logistik energi serta kenaikan biaya logistik untuk impor bahan baku maupun ekspor produk.

Jika kondisi ini terus berlanjut, Febri mengatakan dampaknya akan menekan kinerja IKI maupun Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur pada bulan-bulan berikutnya. Menghadapi situasi ini, Kemenperin mengimbau agar para pelaku industri untuk melakukan efisiensi penggunaan energi.

Baca Juga: Menanti Jurus Pemerintah Efisiensi Energi di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

"Kami dari Kemenperin mengimbau kepada pelaku industri dan semua komponen pada ekosistem industri dalam negeri, pertama, melakukan efisiensi penggunaan energi. Kami berharap industri segera beradaptasi dalam melakukan efisiensi penggunaan energi dan mengantisipasi kenaikan biaya logistik," kata Febri dalam konferensi pers mengenai IKI Maret 2026, Selasa (31/3/2026).

Di samping itu, Febri juga menyoroti posisi nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat. Febri mengimbau agar pelaku industri yang mengimpor bahan baku menggunakan fasilitas Local Currency Transaction (LCT) dari Bank Indonesia guna meredam dampak bagi tekanan kurs.

Di sisi lain, Febri mendorong agar industri yang berorientasi pasar ekspor bisa memanfaatkan momentum ini untuk memacu penjualan ke pasar global. "Ini saatnya memanfaatkan kesempatan untuk meningkatkan daya saing atas produk manufaktur dari negara lain, terutama yang ada di pasar global. Kesempatan untuk membanjiri rantai pasok global dengan produk (dari) industri dalam negeri," ujar Febri.

Dia menambahkan, pemerintah akan berupaya mendukung industri dalam negeri. Salah satunya dengan menjaga permintaan (demand) produk industri di pasar domestik. "Kemenperin akan bekerjasama dengan Kementerian lain, terutama agar demand domestik produk industri itu bisa dilindungi dari banjir produk impor," tegas Febri.

Pemerintah juga terus memonitor konsumsi rumah tangga, yang akan turut berdampak terhadap demand produk industri manufaktur. Menurut Febri, berbagai program pemerintah di bidang ketahanan energi, ketahanan pangan, serta program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan Program 3 Juta Rumah, merupakan bagian dari upaya menjaga demand produk manufaktur di dalam negeri.

Pemerintah pun akan terus mendorong program substitusi impor melalui penguatan rantai pasok industri dalam negeri yang mengandalkan bahan baku lokal. "Kami yakin bahwa industri berdasarkan pengalaman dari berbagai krisis sebelumnya seperti pandemi covid-19 sudah memiliki lesson learned yang baik untuk menghadapi krisis dan tantangan yang cukup kuat di depan," tandas Febri.

Penurunan IKI Maret 2026

Sementara itu, Kemenperin merilis IKI bulan Maret 2026 berada di posisi 51,86. Meski masih berada di zona ekspansi, tapi nilai IKI bulan ini mengalami penurunan 2,16 poin dibandingkan Februari 2026, yang saat itu berada di level 54,02.

Secara tahunan, laju IKI mengalami perlambatan dengan penurunan 1,12 poin dibandingkan Maret 2025 yang kala itu tercatat sebesar 52,98. Dari tiga variabel pembentuk IKI, hanya persediaan produk yang secara bulanan mengalami peningkatan sebesar 1,22 poin menjadi 51,47 pada Maret 2026.

Baca Juga: Transisi ke Listrik Bersih Bawa Lompatan Efisiensi Produksi

Dua variabel lainnya, yakni pesanan baru, secara bulanan anjlok 3,14 poin ke posisi 52,20. Sementara variabel produksi turun 2,80 poin menjadi 51,55. Dari sisi orientasi pasar, IKI Ekspor melambat 1,88 poin ke 52,73. Sedangkan IKI Domestik menukik 2,68 poin menjadi 50,44 pada Maret 2026.

Berdasarkan analisis terhadap 23 sub sektor industri manufaktur, sebanyak 16 sub sektor mengalami ekspansi pada bulan ini. Sub sektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman (KBLI 18) dan Industri Kendaraan Bermotor, Trailer, dan Semitrailer (KBLI 29). 

Sementara itu, tujuh sub sektor yang mengalami kontraksi, yakni Industri Minuman (KBLI 11), Industri Pengolahan Tembakau (KBLI 12), Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus (tidak termasuk furnitur) serta Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya (KBLI 16), Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia (KBLI 20), Industri Barang Galian Bukan Logam (KBLI 23), Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik (KBLI 26), dan Industri Peralatan Listrik (KBLI 27).

Febri mengungkapkan bahwa penurunan IKI pada bulan Maret 2026 disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor. Febri menyoroti sebab utamanya adalah faktor musiman, karena periode hari besar keagamaan terutama Ramadan dan Lebaran Idulfitri telah berlalu.

Hal ini menyebabkan pelaku industri melakukan penyesuaian produksi dengan mempertimbangkan stok barang serta proyeksi permintaan pasca lebaran. Sebelumnya, pelaku industri telah memacu aktivitas produksi pada bulan Januari dan Februari 2026.

Dari sisi distribusi, pembatasan angkutan barang dengan rentang waktu yang cukup panjang pada periode mudik lebaran turut memengaruhi kinerja sejumlah industri. "Kami memperoleh informasi beberapa industri menurunkan produksi pada Maret dibandingkan Januari - Februari karena masih banyak stok barang di gudang dan belum terdistribusi ke pasar karena ada pembatasan kendaraan logistik," ungkap Febri.

Baca Juga: Kilang Pertamina (KPI) Siapkan Proyek WSA untuk Efisiensi Energi dan Dekarbonisasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×