kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.641.000   -14.000   -0,53%
  • USD/IDR 18.058   73,00   0,41%
  • IDX 5.919   -67,94   -1,13%
  • KOMPAS100 771   -10,90   -1,40%
  • LQ45 588   -6,69   -1,12%
  • ISSI 204   -2,18   -1,06%
  • IDX30 333   -3,17   -0,94%
  • IDXHIDIV20 413   -2,43   -0,58%
  • IDX80 88   -1,12   -1,26%
  • IDXV30 112   -0,85   -0,76%
  • IDXQ30 108   -0,77   -0,71%

Krisis Nafta Mereda, Industri Kemasan Masih Dibayangi Tantangan pada Semester II-2026


Rabu, 08 Juli 2026 / 14:32 WIB
Krisis Nafta Mereda, Industri Kemasan Masih Dibayangi Tantangan pada Semester II-2026
ILUSTRASI. Mesin Kemasan Cap Air Mineral (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kemasan masih menghadapi sejumlah tantangan pada semester II-2026, meski krisis pasokan nafta global imbas penutupan Selat Hormuz yang sempat memicu lonjakan harga biji plastik telah mereda.

Direktur Eksekutif Indonesia Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa menyebutkan, pada semester II-2026, industri kemasan masih dibayangi tantangan kenaikan biaya bahan baku (inflasi input) yang menekan daya beli konsumen.

"Lebih lanjut, krisis nafta yang memicu kenaikan harga biji plastik hingga 200%, walaupun saat ini sudah mereda atau menurun lagi, tapi dampaknya masih terasa," katanya kepada Kontan, Rabu (8/7/2026).

Lebih lanjut, Henky mencermati industri juga menghadapi tantangan regulasi Extended Producer Responsibility (EPR), serta pengurangan plastik sekali pakai yang menuntut adaptasi cepat dan tidak mudah.

Baca Juga: Bahan Baku Impor Mahal, Champion Pacific Siapkan Strategi Produksi Kemasan Baru

Pun dari sisi produksi, Henky bilang pelaku usaha kemasan saat ini cenderung memilih menahan ekspansi kapasitas, serta fokus pada efisiensi biaya dan penyesuaian volume produksi.

"Pertimbangannya adalah ketidakpastian harga bahan baku, risiko pelemahan daya beli konsumen, hingga kewajiban kepatuhan regulasi lingkungan yang menambah biaya, tuturnya.

Meski demikian, IPF memandang kuatnya konsumsi rumah tangga pada semester kedua ini masih menjadi angin segar bagi industri.

"Pertumbuhan permintaan pada e-commerce dan program pangan nasional, yakni 190 juta porsi makanan per hari, mendorong permintaan kemasan makanan dan minuman," jelas Henky.

Baca Juga: Industri Plastik Bertahan di Mode Survival, Inaplas Pastikan Belum Ada PHK

Untuk itu, ia memprediksi nilai pasar industri kemasan tahun ini masih mampu tumbuh sebesar 5% hingga 6% secara tahunan. Walaupun, pertumbuhan ini kata Henky lebih moderat dibandingkan awal tahun imbas adanya tekanan biaya.

Menurutnya, agar tetap bertumbuh, industri kemasan membutuhkan kebijakan stabilisasi harga energi dan bahan baku. 

Kemudian, insentif investasi untuk teknologi daur ulang dan kemasan ramah lingkungan, hingga regulasi yang konsisten terkait EPR agar pelaku usaha dapat merencanakan investasi jangka panjang.

"Dan juga, dukungan infrastruktur logistik untuk memperkuat rantai pasok domestik," tandas Henky.

Baca Juga: Harga Plastik Melonjak, Industri Mulai Lirik Kemasan Berbahan Kertas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×