kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.969
  • EMAS704.000 -1,40%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

KTNA perkenalkan sistem pertanian presisi untuk dongkrak pendapatan petani


Senin, 15 April 2019 / 21:39 WIB

KTNA perkenalkan sistem pertanian presisi untuk dongkrak pendapatan petani
ILUSTRASI. Petani memanen tanaman padi di daerah rawan banjir

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) mendorong petani di Indonesia menerapkan pertanian presisi untuk meningkatkan hasil pertanian. Spirit pertanian presisi ini adalah meningkatkan efisiensi, produktivitas dan ramah lingkungan. Bila diterapkan, sistem pertanian presisi diharapkan meningkatkan pendapatan petani.

Ketua KTNA Winarno Tohir mengatakan, sistem pertanian presisi juga ramah lingkungan. Kondisi ini memungkinkan petani mewujudkan pertanian yang sustainable. "Petani dapat bertani terus menerus dan diharapkan petani akan semakin sejahtera,"ujar Winarno saat peluncuran buku Pertanian Presisi, Senin, (15/4).


Ia menjelaskan, dalam buku yang ditulis ini, tidak hanya mengulas usaha tani presisi yang meliputi penyemaian sampai pemanenan padi, tapi juga memaparkan cara pasca panen berupa pengeringan, penyimpanan dan penggilingan gabah serta penyimpanan beras.

Menurutnya, sinergi usaha tani presisi dan pascapanen presisi inilah yang disebut sebagai pertanian presisi (precision agriculture). Ia melanjutkan, untuk mewujudkan pertanian presisi dibutuhkan informasi akurat. Karena itu, kehadiran teknologi informasi dan komunikasi menjadi penting dalam mengambil keputusan.

Data dan informasi yang dikumpulkan meliputi lahan pertanian, bibit, kandungan hara tanah, saluran irigasi, prediksi cuaca, data banjir, kebutuhan air tanaman, serangan hama dan penyakit.

Lebih lanjut, Winanro menuturkan, penggunaan teknologi Global Positioning System (GPS) dan Geographic Information System (GIS), petani bisa menentukan karakteristik spesifik lokasi.

Winarno menuturkan, data GPS menekankan pada ketepatan posisi suatu lahan, sementara GIS pada geografi atau karakteristik tanah dan lain-lain. Dari data GPS dan GIS ini dapat diketahui karakteristik lahan di suatu lokasi dengan lokasi lainnya. Meski satu hamparan belum tentu karakteristik lahan itu sama. Di sinilah pentingnya pertanian presisi.

Winarno melanjutkan, dengan teknologi sensor dan Internet of Things (IoT), petani bisa mendapatkan informasi ketersediaan hara tanah, pH tanah, kelembapan tanah, kandungan air tanah, data suhu dan curah hujan, cuaca dan iklim, kebutuhan air tanaman, kebutuhan hara tanaman, dan sebagainya.

Dengan drone, petani bisa mendapatkan informasi tanaman yang terkena hama dan penyakit. Dengan bantuan teknologi microcontroler yang dipasang pada alat sensor, semua data lapangan yang diperoleh dapat dikirim ke server penyimpanan dan pengolahan data melalui internet.

Data lapangan ini diolah dengan perangkat lunak tertentu agar menjadi informasi yang bisa digunakan kapan dan di mana saja untuk mengambil keputusan dalam aktivitas pertanian.

Namun ia menekankan, kalau pertanian presisi belum cukup untuk mensejahterahkan petani, maka diperlukan laporan tanaman prospektif yang menginformasikan prospek komoditas setiap awal tahun.


Reporter: Noverius Laoli
Editor: Noverius Laoli
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0549 || diagnostic_web = 0.2769

Close [X]
×