Reporter: Albertus M. Prestianta | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. PT Tifico Fiber Indonesia Tbk (TFCO) memasang target penjualan tahun ini lebih rendah dari realisasi penjualan tahun lalu. Tahun ini, perusahaan ini menargetkan penjualan US$ 360,1 juta atau turun sekitar 10,4% dibandingkan dengan penjualan tahun lalu yang mencapai
US$ 401,9 juta.
Produsen serat polyester ini memangkas target penjualan lantaran perseroan ini memperkirakan ada penurunan harga bahan baku yang merupakan turunan dari minyak bumi. Saat ini harga minyak mentah cenderung turun. "Sehingga pembeli pun menginginkan harga turun" kata Sugito Budiono, Direktur Tifico saat paparan publik, Rabu (6/6) kemarin.
Melihat kondisi itu, perseroan ini menargetkan laba bersih tahun ini US$ 4,3 juta. Angka tersebut jauh di bawah pencapaian laba bersih (laba tahun berjalan) 2011 yang mencapai US$ 32,95 juta.
Manajemen TFCO beralasan, laba bersih menipis lantaran biaya produksi meningkat. "Tahun ini kami pasang target konservatif untuk laba bersih," ujar Sugito.
Selain itu, krisis yang melanda Eropa membuat permintaan menurun sekaligus menekan harga jual produk. Harga jual pun semakin tertekan lantaran ketatnya persaingan. "Impor bebas produk sejenis membanjiri pasar dalam negeri," ujar Sugito.
Pengaruh sejumlah faktor itu pun sudah terasa sejak kuartal I-2012. Perusahaan hanya mampu meraup penjualan bersih US$ 99,83 juta, turun 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Alhasil, laba bersih kuartal I 2012 juga terpukul hingga 450% lebih rendah dari tahun lalu, menjadi US$ 2,4 juta.
Strategi bertahan
Demi mempertahankan kinerja semaksimal mungkin, perseroan akan menjaga kesehatan manajemen keuangan dengan fokus pada arus kas dan melakukan efisiensi di segala lini.
Di sisi produksi, Tifico berniat mengembangkan produk-produk turunan. Saat ini, Tifico memiliki tiga produk utama, yaitu polyester chip, staple fiber, dan filament yarn. Setiap produk memiliki turunan yang cukup banyak. "Itu yang akan kami kembangkan untuk mendorong penjualan," beber Sugito.
Tifico juga akan mengatur ulang pasarnya, yakni dengan mengurangi ekspor ke negara-negara Eropa dan mengalihkan pasar ke negara-negara ASEAN yang kondisi ekonominya jauh lebih baik dari Eropa saat ini. Sekadar catatan, penjualan ekspor menyumbang 20% terhadap total penjualan Tifico.
Perseroan ini menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 14,4 juta di tahun ini. Capex itu dari kas internal dan akan digunakan untuk pembelian mesin dan pembangunan infrastruktur. "Untuk mesin US$ 8,2 juta dan infrastruktur US$ 6,2 juta," katanya.
Pembelian mesin itu bukan menambah kapasitas produksi tapi bagian peremajaan mesin. Kini, kapasitas produksi Tifico sebesar 418.000 metrik ton per tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













