Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengelola pusat perbelanjaan dan pelaku usaha ritel berupaya menahan kenaikan harga sewa maupun harga jual barang di tengah meningkatnya biaya operasional dan perlambatan aktivitas belanja masyarakat.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, biaya operasional industri ritel saat ini mengalami kenaikan di tengah periode low season yang lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Ciputra Group Sebut Pasar Properti di Cirebon Masih Positif
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik global serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Alphonzus, tekanan biaya terutama berasal dari kenaikan ongkos logistik dan harga gas yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
"Terutama dari sisi harga gas, karena CNG itu memiliki komponen biaya yang terkait dengan dolar AS," ujar Alphonzus dalam konferensi pers program BINA Holiday & Back to School di Kementerian Perdagangan, Senin (8/6/2026).
Selain itu, industri ritel juga menghadapi periode low season yang lebih dalam. Biasanya, aktivitas belanja masyarakat melambat setelah Ramadan dan Idulfitri yang merupakan puncak konsumsi tahunan.
Baca Juga: ALFI: Biaya Transaksi Logistik Naik 15% Akibat Anjloknya Kurs Rupiah
Namun, pada tahun ini periode tersebut berlangsung lebih panjang karena Ramadan dan Idulfitri jatuh lebih awal, yakni pada kuartal I 2026.
"Triwulan II dan triwulan III akan menjadi periode low season yang lebih panjang dibandingkan biasanya," kata Alphonzus.
Di sisi lain, sejumlah pemerintah daerah juga menaikkan berbagai jenis pajak daerah untuk menambah pendapatan setelah berkurangnya alokasi dana dari pemerintah pusat. Kebijakan tersebut turut menambah beban operasional pelaku usaha.
"Karena dana alokasi daerah berkurang, beberapa daerah mencari tambahan pendapatan dengan menaikkan pajak-pajak daerah. Ini yang kami alami di sejumlah wilayah sehingga biaya operasional ikut meningkat," ujarnya.
Baca Juga: Tak Bisa Naikkan Harga, Pelemahan Rupiah Gerus Margin Manufaktur
Meski menghadapi berbagai tekanan tersebut, pengelola pusat perbelanjaan belum berencana menaikkan tarif sewa. Pelaku ritel juga masih berupaya menahan kenaikan harga jual kepada konsumen.
Menurut Alphonzus, menaikkan harga merupakan pilihan terakhir karena berpotensi semakin menekan daya beli masyarakat.
Karena itu, strategi utama yang ditempuh saat ini adalah mendorong peningkatan penjualan melalui berbagai program promosi dan belanja.
"Opsinya adalah meningkatkan penjualan. Karena itu kami menyelenggarakan berbagai program, termasuk BINA Holiday. Kami juga menyiapkan sejumlah program belanja yang bersifat regional untuk menarik kunjungan dan transaksi masyarakat," jelasnya.
Sebagai informasi, BINA Holiday & Back to School 2026 merupakan program kolaboratif yang melibatkan sektor ritel, pusat perbelanjaan, pariwisata, transportasi, perhotelan, kuliner, ekonomi kreatif, hingga UMKM. Program tersebut bertujuan mendorong aktivitas belanja dan wisata domestik selama periode libur sekolah.
Baca Juga: Industri Rokok Tolak Wacana Kemasan Seragam, Khawatir Picu Rokok Ilegal dan PHK
BINA sendiri merupakan program belanja yang diinisiasi oleh Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sejak 2024.
Pada penyelenggaraan BINA Lebaran 2026, program tersebut mencatat nilai transaksi sebesar Rp 54,9 triliun atau melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 53,38 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













