kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pasca Mengalami Kontraksi, Prospek Sektor Tambang Masih Menantang di Sisa Tahun Ini


Rabu, 13 Mei 2026 / 09:59 WIB
Pasca Mengalami Kontraksi, Prospek Sektor Tambang Masih Menantang di Sisa Tahun Ini
ILUSTRASI. Sektor tambang Indonesia mengalami kontraksi 2,14% di kuartal I-2026.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha menyoroti kontraksi di sektor pertambangan yang melebihi level 2% pada awal tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi sebesar 2,14% pada kuartal I-2026.

Kondisi ini terjadi ketika hampir seluruh lapangan usaha naik menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61% secara tahunan atau year on year (YoY).

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani menyatakan data BPS yang memotret kontraksi di sektor pertambangan dan penggalian cukup menggambarkan kondisi di lapangan. 

Sektor pertambangan tidak hanya menghadapi tekanan harga, tetapi juga tekanan dari sisi volume, biaya, dan kepastian usaha.

Baca Juga: Capai Setengah Abad, IPA Convex 2026 Gandeng Ekosistem Hulu Migas Nasional & Regional

"Untuk batubara, salah satu faktor yang terasa adalah adanya penyesuaian produksi, termasuk melalui proses RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya), sehingga ruang produksi dan penjualan perusahaan menjadi lebih terbatas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," kata Gita kepada Kontan.co.id, Selasa (12/5/2026).

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Erwin Aksa mengamini bahwa data BPS cukup merefleksikan kondisi riil di lapangan. Pada awal 2026, Erwin menyatakan sektor ini menghadapi tekanan yang tidak ringan. 

Menurut Erwin, kontraksi di sektor pertambangan dan penggalian bukan semata disebabkan penurunan produksi. Tetapi merupakan kombinasi dari pelemahan permintaan global, fluktuasi harga komoditas, tekanan biaya operasional, serta proses penyesuaian di beberapa subsektor tambang.

Kadin memberikan sejumlah catatan yang menjadi penyebab kontraksi sektor pertambangan dan penggalian pada kuartal I-2026. Pertama, permintaan global masih belum sepenuhnya pulih, terutama dari sektor manufaktur di sejumlah negara mitra dagang utama.

Kedua, volatilitas harga komoditas membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam ekspansi produksi. Ketiga, kenaikan biaya energi, logistik, dan operasional ikut menekan margin industri tambang.

Selain itu, faktor cuaca dan gangguan rantai pasok di beberapa wilayah juga memengaruhi realisasi produksi pada awal tahun.

Sementara itu, Ketua Komite Pertambangan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hendra Sinadia menyoroti tren pertumbuhan di sektor pertambangan dan penggalian dalam tiga tahun terakhir atau pada 2023 - 2025 telah menunjukkan indikasi kontraksi. Data BPS pada kuartal I-2026 mencerminkan belum adanya pertumbuhan (yoy) di sektor ini.

Baca Juga: IPA: Potensi Hulu Migas Indonesia Masih Tinggi, Tapi Perlu Perbaikan di Tiga Hal Ini

Menurut Hendra, rencana investasi pelaku usaha terdampak oleh beberapa perubahan regulasi yang berpengaruh secara signifikan.Terutama oleh kenaikan tarif royalti dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025.

Pelaku usaha juga berhadapan dengan pemangkasan produksi yang signifikan, khususnya batubara yang menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan di sektor pertambangan. 

Selain itu wacana kenaikan tarif royalti dalam revisi PP No. 39/2025 juga akan menekan sektor pertambangan termasuk revisi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Pada saat yang sama, pelaku usaha juga sedang terbebani dengan tingginya biaya bahan bakar dan biaya logistik.

Sedangkan di sisi hilir, perusahaan smelter terkendala pasokan sulfur dengan harga yang meroket sebagai dampak dari situasi konflik di Timur Tengah.

Prospek Sektor Tambang di Sisa 2026

Mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Hendra memandang prospek sektor pertambangan masih menantang.

"Kemungkinan besar di kuartal kedua masih berpotensi terjadinya kontraksi pertumbuhan. Dengan berbagai perubahan regulasi kebijakan sulit untuk bisa mengharapkan perbaikan dalam pertumbuhan sektor pertambangan di sisi 2026," kata Hendra saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (11/5/2026).

Menginjak kuartal II-2026, Gita memandang outlook pertambangan batubara masih menantang. Meski begitu, ada secercah harapan untuk memperbaiki prospek kinerja seiring dengan sinyal perbaikan pasar.

Baca Juga: PTPN III Mendorong UMKM Masuk Rantai Pasok BUMN Melalui PaDi

"Untuk kuartal II-2026, kami melihat kondisinya masih menantang dalam jangka pendek. Memang ada beberapa sinyal pasar yang mulai membaik, terutama dari pergerakan harga dan permintaan di Asia. Sejumlah analis juga melihat tekanan penurunan harga mulai lebih terbatas," kata Gita.

Hanya saja, Gita mengingatkan bahwa bagi pelaku usaha di dalam negeri, tantangan utamanya bukan hanya soal harga. Tetapi juga ruang produksi, kepastian RKAB, biaya operasi, kelancaran ekspor, dan arus kas (cash flow).

"Jadi, peluang perbaikan tetap ada, tetapi belum otomatis tercermin pada kinerja sektor apabila volume produksi dan ekspor masih terbatas. Kuartal kedua kemungkinan masih menjadi periode konsolidasi, sambil menunggu kejelasan kebijakan dan ruang penyesuaian yang lebih fleksibel bagi perusahaan," imbuh Gita.

Senada, Erwin memandang peluang perbaikan kinerja masih terbuka, namun selektif pada sejumlah komoditas. Dia memprediksi permintaan dari kawasan Asia masih menjadi penopang utama, terutama untuk komoditas yang terkait hilirisasi, energi, dan kebutuhan industri strategis.

"Untuk sisa tahun 2026, khususnya kuartal kedua, Kadin melihat peluang perbaikan tetap terbuka. Meskipun pemulihannya kemungkinan berlangsung bertahap dan belum merata di semua komoditas," kata Erwin.

Hanya saja, Erwin mengingatkan bahwa tantangan yang akan dihadapi oleh sektor pertambangan dan penggalian masih cukup besar. Ketidakpastian geopolitik global, fluktuasi harga minyak dan komoditas, tekanan kurs, hingga potensi perlambatan ekonomi dunia masih menjadi faktor yang membuat pelaku usaha cenderung berhati-hati.

Baca Juga: Penipuan Digital Makin Marak, VIDA Luncurkan Sistem Deteksi Fraud Berlapis

Selain itu, Kadin menegaskan industri ini juga membutuhkan kepastian regulasi, percepatan perizinan, dan dukungan infrastruktur agar investasi di sektor tambang tetap berjalan.

Erwin memberikan catatan bahwa fokus ke depan bukan hanya menjaga volume produksi, tetapi juga memperkuat nilai tambah dan daya saing industri pertambangan nasional.

"Kadin melihat peluang perbaikan tetap ada, terutama jika program hilirisasi terus dijaga konsistensinya, iklim investasi diperkuat, dan permintaan domestik maupun regional mulai membaik pada semester II-2026," tandas Erwin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×