Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki 2026, SUN Energy menegaskan strategi bisnisnya dengan memperkuat peran di sektor industri dan memperluas keterlibatan di segmen Independent Power Producer (IPP).
Langkah ini bertujuan mendukung pengembangan proyek energi surya berskala besar serta memperkuat kontribusi terhadap bauran energi nasional.
Transformasi industri menuju operasional rendah karbon kini menjadi keharusan untuk menjaga daya saing global. Penerapan penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa mendorong pelaku industri di Indonesia mempercepat dekarbonisasi secara terukur dan berkelanjutan.
Sepanjang 2025, SUN Energy fokus pada penguatan kapabilitas teknis, operasional, dan digital untuk membantu industri mengelola energi, emisi, dan efisiensi operasional lintas lokasi.
"Memasuki 2026, fokus kami tidak hanya pada proyek energi surya, tetapi juga pada pengembangan teknologi penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System (BESS), khususnya untuk sektor industri dengan kebutuhan energi tinggi dan operasional kompleks seperti pertambangan, manufaktur berat, serta sektor-sektor potensial lainnya," ujar CEO SUN Energy Emmanuel Jefferson Kuesar dalam keterangannya, Selasa (6/1).
Baca Juga: Sebelum Setop Impor Solar, Pemerintah Tunggu RDMP Balikpapan Beroperasi Penuh
Ia menjelaskan, Integrasi antara pembangkitan, penyimpanan, dan sistem manajemen energi menjadi pondasi penting untuk memastikan keandalan pasokan sekaligus efisiensi emisi.
"Pendekatan ini memungkinkan industri mengelola energi dan emisi secara menyeluruh, dari sumber energi, penyimpanan, hingga mobilitas, sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang," lanjutnya.
Meskipun adopsi energi terbarukan terus meningkat — data PLN mencatat 11.392 pelanggan PLTS Atap dengan kapasitas 772,9 MW — banyak inisiatif dekarbonisasi masih berjalan terpisah di tiap fasilitas.
Minimnya integrasi antar-lokasi, keterbatasan pemantauan data energi terpusat, serta kompleksitas operasional multisite membuat pengelolaan emisi jangka panjang menantang.
Berbekal pengalaman global, SUN Energy telah mengoperasikan proyek surya 420 MW di empat negara, menghasilkan lebih dari 650 juta kWh listrik bersih, dan menurunkan emisi karbon sekitar 506 juta kg CO?.
Di Indonesia, kapasitas PLTS sektor industri telah mencapai 240 MW, menjadikan perusahaan salah satu pengembang energi surya terbesar. Sektor dengan konsumsi energi tinggi seperti semen, FMCG, kertas, kemasan plastik, elektronik, dan komponen otomotif menjadi kontributor utama, terutama di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten.
Pada 2025, SUN Energy mencatat tonggak penting lewat implementasi Containerized Battery Energy Storage System (CBESS) pertama di Indonesia untuk sektor pertambangan.
Sistem ini memungkinkan optimalisasi energi terbarukan, meningkatkan keandalan pasokan, dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Keberhasilan ini membuka peluang replikasi ke sektor manufaktur berat, smelter, dan kawasan industri terpadu besar.
Selain proyek surya, perusahaan memperluas kolaborasi dengan kawasan industri. Saat ini, PLTS telah terpasang untuk lebih dari 20 tenant di KIIC, GIIC, dan Kawasan Industri Jababeka melalui Bekasi Power, dengan total kapasitas lebih dari 20 MW.
SUN Energy juga memperkuat ekosistem melalui integrasi SUN Mobility untuk elektrifikasi transportasi dan SUN Terrauntuk pengelolaan energi surya. Strategi ini memungkinkan industri mengelola energi, emisi, dan mobilitas secara terpadu, mendukung agenda dekarbonisasi jangka panjang di Indonesia.
Baca Juga: Hadapi 2026, Samudera Indonesia (SMDR) Ekspansi Armada dan Rute Pelayaran
Selanjutnya: Reliance Hentikan Pembelian, Impor Minyak Rusia ke India Anjlok di Januari 2026
Menarik Dibaca: Wanita Wajib Tahu! Ini 5 Makanan yang Sering Menyebabkan Kista
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












