Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah masih menunggu pengoperasian penuh proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan sebelum merealisasikan rencana penghentian impor solar. Kilang hasil pengembangan tersebut diproyeksikan menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan solar domestik mulai 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan, proyek RDMP Balikpapan saat ini sudah memasuki tahap akhir dan hanya tinggal menunggu peresmian. “Menunggu peresmian saja,” ujar Laode di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Laode menuturkan, seluruh tahapan utama proyek telah diselesaikan. Pemerintah kini tinggal menunggu pengumuman resmi terkait waktu peresmian yang ditargetkan berlangsung pada Januari 2026.
Baca Juga: Hadapi 2026, Samudera Indonesia (SMDR) Ekspansi Armada dan Rute Pelayaran
“Kami perlu kejar karena kami berharap kekuatan dari RDMP ini akan menjadi tulang punggung kita untuk bebas dari impor solar tahun 2026. Itu yang kita andalkan adalah RDMP,” kata Laode.
Terkait waktu mulai pemanfaatan produksi kilang, Laode menjelaskan hingga Februari–Maret 2026, pemenuhan kebutuhan solar nasional masih mengacu pada kuota tahun 2025. Pemanfaatan produksi RDMP Balikpapan secara optimal baru direncanakan mulai April 2026.
“Sampai dengan Februari–Maret, kita masih menggunakan kuota tahun 2025 kemarin. Nanti bulan April baru kita pakai,” ujarnya.
Menurut Laode, PT Pertamina masih memerlukan waktu untuk menyiapkan stok hasil produksi kilang, termasuk pengaturan logistik dan kesiapan pelabuhan agar distribusi ke badan usaha, termasuk pihak swasta, dapat berjalan lancar.
"Jadi begitu sudah berproduksi, stok disiapin, berapa hari, kemudian juga menyiapkan pelabuhannya di mana nantinya swasta-swasta itu akan mengambil. Ketika semuanya sudah siap, baru kami laksanakan," jelasnya.
Dengan skema tersebut, Laode memastikan kebutuhan solar pada awal tahun sebagian besar dipenuhi dari stok lanjutan (carry-over) 2025, sementara pasokan dari RDMP Balikpapan mulai masuk secara bertahap pada Maret.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan, jika RDMP Balikpapan beroperasi penuh pada 2026, produksi solar nasional berpotensi surplus sekitar 3 juta hingga 4 juta kiloliter (KL). Kondisi itu menjadi dasar target pemerintah untuk menghentikan impor solar mulai tahun depan.
Baca Juga: Bandara Injourney Airports Angkut Total 10,2 Juta Penumpang di Momen Nataru
“Solar nanti 2026 itu, kalau RDMP [Balikpapan] kita sudah jadi, itu surplus kurang lebih sekitar 3–4 juta. Agenda kami 2026 itu enggak ada impor solar lagi,” ujar Bahlil.
Meski demikian, Bahlil masih membuka peluang impor dalam jumlah terbatas pada awal 2026, bergantung pada kesiapan operasional kilang. Jika operasional penuh RDMP baru tercapai sekitar Maret, maka impor pada Januari–Februari dinilai masih mungkin dilakukan secara terbatas.
Selanjutnya: Diskon Mobil LMPV Awal 2026 Menggiurkan, Ertiga Potong Harga hingga Rp 37 Juta
Menarik Dibaca: Kim Seon-ho dan Go Youn-jung Siap Beri Kejutan Penggemar di Jakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












