kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.920   50,00   0,28%
  • IDX 5.680   -141,04   -2,42%
  • KOMPAS100 733   -19,02   -2,53%
  • LQ45 559   -13,71   -2,39%
  • ISSI 197   -4,23   -2,10%
  • IDX30 318   -7,23   -2,22%
  • IDXHIDIV20 392   -8,58   -2,14%
  • IDX80 83   -2,13   -2,50%
  • IDXV30 106   -1,93   -1,78%
  • IDXQ30 103   -2,20   -2,10%

Mendag: Harga beras dikendalikan pedagang besar


Senin, 08 Juni 2015 / 18:19 WIB
ILUSTRASI. BCA Syariah - kilas


Sumber: Kompas.com | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Pemerintah tetap membuka opsi impor beras untuk memenuhi kebutuhan komsumsi nasional. Hal itu diakibatkan gagalnya Bulog menyerap 4 juta ton beras yang ditargetkan pemerintah.

Meski begitu, Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel mengatakan bahwa impor beras tidak dimaksudkan untuk mematikan petani dalam negeri. Menurut Mendag, opsi impor itu dibuka karena pemerintah berusaha mengendalikan harga beras di pasaran. 

"Iya dong, maksudnya tidak mematikan petani. Saya mendukung swasembada pangan untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Tapi satu sisi saya juga harus menjaga konsumen, jangan konsumen terbebani (harga beras mahal)," ujar Mendag dalam diskusi RRI Pangan Kita di Jakarta, Senin (8/6).

Saat ini stok beras dikuasai oleh para pedagang besar. Setiap saat, para pedagang itu bisa menjadi spekulan karena menahan penjualan beras sehingga harga beras melambung. Menurut Mendag, hal itu terjadi karena kegagalan Bulog menyerap beras dari petani. 

"Artinya yang di tengah inilah kita harus kendalikan, jangan malah spekulan yang mengendalikan negara ini karena dia tak mau jual beras. Padahal sebenarnya secara stok kita cukup (tapi dikuasai pedagang)," kata Mendag.

Sebelumnya, Rachmat Gobel menegaskan stok beras di Perum Bulog aman, kendati masih di bawah minimum stok. “Saat ini stok 1,2 juta ton, terus naik. Sementara ini kita masih aman. Memang sebetulnya stok 2 juta minimum. Jadi, masih kurang,” kata Rachmat ditemui usai rapat koordinasi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (12/5).

Saat ini, Perum Bulog terus melakukan penyerapan. Rachmat menegaskan, opsi impor yang dikemukakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil merupakan upaya terakhir, untuk menjaga stok Perum Bulog. 

Sementara itu saat ditanya mengenai antisipasi pemerintah akan spekulan yang umumnya muncul jelang lebaran, Rachmat memastikan Kementerian Perdagangan tengah menunggu Peraturan Presiden (Perpres) untuk penetapan harga.

Di luar beras, Rachmat juga memastikan pasokan daging sapi untuk bulan puasa dan Lebaran cukup. (Yoga Sukmana)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×