kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.546.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 18.167   1,00   0,01%
  • IDX 5.032   -65,62   -1,29%
  • KOMPAS100 648   -7,84   -1,19%
  • LQ45 512   -3,34   -0,65%
  • ISSI 169   -2,63   -1,54%
  • IDX30 288   -1,06   -0,37%
  • IDXHIDIV20 389   0,24   0,06%
  • IDX80 75   -0,77   -1,02%
  • IDXV30 108   0,91   0,85%
  • IDXQ30 97   -0,30   -0,31%

Mendorong Talenta Perempuan Lewat Investasi Layanan Pengasuhan


Jumat, 30 Oktober 2026 / 10:49 WIB
Mendorong Talenta Perempuan Lewat Investasi Layanan Pengasuhan
ILUSTRASI. IBCWE menggelar dialog kebijakan tentang Dukungan Pengasuhan Anak oleh Perusahaan (ESC) pada Kamis (29/10/2026).


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dukungan pengasuhan anak bukan sekadar tanggung jawab keluarga atau isu kesetaraan gender, melainkan kebutuhan bersama sekaligus investasi strategis bagi dunia usaha. Beban pengasuhan yang selama ini lebih banyak ditanggung perempuan dapat menghambat perkembangan karier dan partisipasi mereka di dunia kerja.

Di sisi lain, perusahaan juga berpotensi kehilangan talenta, menghadapi peningkatan biaya operasional, dan mengalami penurunan produktivitas jika persoalan pengasuhan tidak mendapat perhatian. Karena itu, penerapan Employer-Supported Child Care (ESC) perlu diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, pekerja, dan penyedia layanan pengasuhan.

Untuk mendorong semakin banyak perusahaan mengadopsi praktik tersebut, Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) mempertemukan pemerintah, dunia usaha, dan mitra pembangunan dalam dialog kebijakan tentang Dukungan Pengasuhan Anak oleh Perusahaan (ESC).

Keterbatasan akses terhadap dukungan pengasuhan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan perempuan untuk memasuki, bertahan, dan berkembang di dunia kerja. Saat ini, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih berada di kisaran 56%, sementara laki-laki mencapai sekitar 84%.

Ketua Umum DPP Apindo sekaligus pendiri IBCWE, Shinta W. Kamdani, mengatakan bahwa beban pengasuhan anak dan perawatan keluarga yang masih didominasi perempuan menjadi salah satu penghambat kesetaraan gender di dunia kerja. “Kondisi ini tidak hanya membatasi perkembangan karier perempuan, tetapi juga berisiko merugikan produktivitas dan keberlanjutan bisnis perusahaan,” ujarnya, Kamis (29/10/2026).

Baca Juga: Pelindo Perkuat Peran Perempuan dalam Program TJSL

Ia mengungkapkan, hasil studi IBCWE dan ILO yang dilakukan pada Oktober–November 2025 menunjukkan bahwa persoalan pengasuhan dialami perempuan di berbagai jenjang manajemen. Dampaknya bagi perusahaan antara lain kehilangan talenta terbaik, meningkatnya biaya pergantian pekerja, penurunan produktivitas, hingga terganggunya keberlanjutan bisnis.

Sebaliknya, dukungan pengasuhan dapat memberikan keuntungan bagi bisnis. Shinta menyebutkan bahwa studi IBCWE di Vietnam dan Kenya menunjukkan fasilitas pengasuhan mampu menekan tingkat pergantian pekerja dan cuti tidak terencana. Bahkan, penelitian Bank Dunia di Indonesia memperkirakan bahwa penambahan satu tenaga pengasuh per 1.000 anak berpotensi meningkatkan produktivitas pabrik manufaktur sebesar 11%.

Karena itu, Shinta menilai dukungan pengasuhan harus menjadi investasi perusahaan, bukan sekadar biaya tambahan. Implementasinya dapat dilakukan melalui penyediaan fasilitas penitipan anak, penerapan jam kerja fleksibel, dan penyediaan ruang laktasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pekerja serta kemampuan perusahaan.

"Melalui program ESC, IBCWE bersama Investing in Women mendorong dunia usaha mengembangkan solusi pengasuhan yang sesuai dengan kondisi masing-masing perusahaan," imbuh Shinta

Senada, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Choiri Fauzi menegaskan bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, keluarga, masyarakat, dan dunia usaha.

Menurutnya, dukungan pengasuhan menjadi kunci untuk membuka kesempatan bagi perempuan agar dapat berpartisipasi dan berkembang di dunia kerja. Karena itu, diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat kebijakan pengasuhan anak dan ekonomi perawatan di Indonesia.

“Dukungan tersebut diharapkan tidak hanya mendorong kesetaraan perempuan, tetapi juga membantu perusahaan mempertahankan talenta, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat daya saing bisnis,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Baca Juga: Astra Perkuat Kepemimpinan Perempuan Lewat Astra Women Network 2026

Sejak 2024, IBCWE melalui program ESC bekerja sama dengan sejumlah perusahaan untuk mengembangkan berbagai bentuk dukungan pengasuhan yang sesuai dengan kebutuhan pekerja dan kondisi bisnis masing-masing perusahaan. Bentuk dukungan tersebut antara lain mencakup pengaturan kerja fleksibel, cuti orang tua, serta penyusunan kebijakan yang membantu pekerja menjalankan tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan secara lebih seimbang.

Dalam forum ini, APRIL Group (Asia Pacific Resources International Holdings) sebagai mitra dalam proyek ESC IBCWE berbagi pengalaman mengenai proses implementasi kebijakan dukungan pengasuhan di tempat kerja.

Nyoman Iswara Yoga, Head of Strategic Initiatives and ESG APRIL Group, mengungkapkan bahwa dari hampir 20.000 karyawan APRIL Group, sekitar 18,2% di antaranya merupakan perempuan. Untuk meningkatkan proporsi tersebut dan membuka peluang bagi perempuan menduduki posisi strategis, APRIL Group menilai perlu menyediakan fasilitas yang mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga.

“Saat ini, APRIL mengoperasikan daycare di dua townsite yang dihuni hampir 2.500 karyawan. Fasilitas tersebut melayani 100 anak dari 83 keluarga, dengan pendampingan pengelolaan dari IBCWE,” ujar Nyoman.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Perluas Partisipasi Perempuan, Dorong Inklusivitas SDM Maritim

Ia mengatakan, program daycare mulai diinisiasi pada 2014 dan kini dikelola di bawah yayasan. Layanannya mencakup empat kelompok usia, mulai dari bayi berusia enam minggu hingga anak berusia delapan tahun. Daycare menerapkan kurikulum Montessori dan pendekatan pengasuhan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Fasilitasnya dilengkapi CCTV dan layanan pemeriksaan kesehatan, serta didukung oleh 16 pengasuh.

Menurut Nyoman, keberadaan daycare memberikan kenyamanan bagi karyawan. Bahkan, muncul permintaan layanan penitipan untuk anak berusia di atas enam tahun. “Ke depan, APRIL akan terus mengembangkan layanan ini agar menjadi program berkelanjutan sekaligus mendukung peningkatan partisipasi perempuan di dunia kerja,” pungkasnya.

IBCWE berharap perusahaan, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dapat berkolaborasi membangun ekosistem pengasuhan yang lebih tepat guna. Lembaga ini juga berkomitmen mendorong agar praktik-praktik yang telah diterapkan sejumlah perusahaan dapat menjadi pembelajaran bagi lebih banyak pelaku usaha di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×