Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pengembangan ekosistem industri rumput laut nasional untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Pemerintah bahkan membidik Indonesia menjadi produsen rumput laut nomor satu dunia.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengatakan, Kemenperin siap mengambil langkah untuk membangun ekosistem industri rumput laut dari hulu hingga hilir. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari agenda industrialisasi dan hilirisasi nasional.
“Insyaallah jajaran Kemenperin siap mengambil langkah-langkah untuk mempersiapkan ekosistem industri rumput laut ini sebagai satu potensi baru yang membanggakan kita semua,” kata Sarmuji dalam keterangan resmi, Selasa (6/10/2026).
Baca Juga: Produksi Nikel Diprediksi Capai 3,5 Juta Ton dan Emas 130 Ton pada 2027
Menurut Sarmuji, pengembangan industri rumput laut sejalan dengan upaya memperkuat kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional. Pada kuartal II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32%, sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%.
Pada periode tersebut, industri pengolahan nonmigas berkontribusi Rp 1.102,88 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB). Sektor ini juga menyumbang sekitar 38,98% terhadap realisasi investasi nasional dan 82,40% terhadap ekspor nasional.
Dari 15 subsektor industri pengolahan nonmigas, sebanyak 14 subsektor mencatatkan pertumbuhan positif. Sementara berdasarkan data Manufacturing Value Added (MVA) 2025 yang dirilis World Bank, nilai tambah manufaktur Indonesia mencapai US$ 275,61 miliar. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia dan pertama di Asia Tenggara.
Sarmuji mengatakan, rumput laut memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah. Komoditas ini tidak hanya dapat diolah menjadi produk pangan, tetapi juga bahan baku untuk industri lain.
“Rumput laut memiliki peluang pemanfaatan yang luas, tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bahan baku berbagai produk bernilai tambah. Produk turunannya antara lain pangan, agar dan karagenan, hingga bahan untuk industri farmasi, kosmetik, nutraceutical, biomaterial, dan bioplastik,” tutur Menperin.
Ia menambahkan, pengembangan industri rumput laut juga dapat menopang kinerja industri makanan dan minuman. Pada semester I 2026, industri makanan dan minuman tumbuh 6,77% dan berkontribusi 41,86% terhadap PDB industri nonmigas serta 7,16% terhadap PDB nasional.
Karena itu, Kemenperin mendorong hilirisasi dan diversifikasi produk rumput laut untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka pasar baru. Pengembangan industri juga perlu dibarengi dengan penguatan kapasitas produksi, inovasi dan teknologi.
Selain itu, aspek keberlanjutan menjadi perhatian, terutama terkait ketersediaan bahan baku, kualitas lingkungan, efisiensi sumber daya dan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sentra produksi rumput laut.
Sarmuji mengatakan arah pengembangan industri rumput laut tersebut telah masuk dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2026–2045 yang saat ini dalam tahap finalisasi. Pengembangan industri akan diarahkan untuk memperkuat rantai pasok dari bahan baku hingga produk hilir.
“Pengembangan industri tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan sentra produksi bahan baku di hulu serta industri pengguna dan pasar di hilir,” jelas Menperin.
Untuk merealisasikan target tersebut, pemerintah membutuhkan dukungan investasi swasta, pembiayaan, riset, inovasi, teknologi hingga kerja sama internasional. Kemenperin juga mendorong pengembangan rumput laut agar tidak berhenti pada pengolahan komoditas, tetapi mampu membentuk rantai nilai industri dan mengoptimalkan potensi ekonomi biru.
Sarmuji berharap ISDAP 2026–2030 dapat menjadi pijakan bagi pengembangan industri rumput laut yang lebih terarah. “Kementerian Perindustrian siap berkontribusi dalam memperkuat hilirisasi, nilai tambah, daya saing, dan akses pasar, serta terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan,” pungkasnya.
Baca Juga: Siloam (SILO) Lanjutkan Ekspansi Rumah Sakit hingga Akhir 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














