Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pertambangan Indonesia atau Indonesia Mining Association (IMA) memproyeksikan produksi sejumlah komoditas mineral utama nasional akan mengalami peningkatan di tahun depan.
Ketua Umum IMA Rahmat Makassau menyebut, kenaikan volume produksi tersebut ditopang keberhasilan program hilirisasi serta pengoperasian fasilitas pemurnian mineral yang mulai beroperasi secara optimal.
Menurut Rahat, sektor pertambangan mineral dan batubara (minerba) mampu menjalankan agenda hilirisasi dengan menyediakan pasokan bahan baku secara berkelanjutan bagi kebutuhan industri hilir (downstream industry).
Keberhasilan penambahan kapasitas olahan ini terlihat dari lonjakan volume produksi komoditas nikel, tembaga, hingga emas yang terus mencatatkan tren kenaikan secara bertahap.
Baca Juga: Penjualan Alat Berat Intraco Penta (INTA) Turun, Bisnis Rental Berkontribusi 25%
Rahmat bilang, total produksi nikel diproyeksikan mampu mencapai jutaan ton seiring meningkatnya kapasitas pemrosesan produk Nickel Pig Iron (NPI) dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
"Di nikel kita sudah memproduksi NPI 2,5 juta ton, MHP 1 juta ton mungkin tahun depan, dari nikel ada sekitar 3,5 juta ton total, kemudian tembaga 2027 kemungkinan akan memproduksi sekitar 1,1 juta ton atau mungkin 1 juta ton katoda," ujarnya dalam acara BIG Downstream Insight 2026, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Rahmat menjelaskan, volume produksi tembaga diprediksi naik hingga menyentuh kisaran 1,2 juta ton hingga 1,3 juta ton begitu seluruh smelter beroperasi pada kapasitas maksimum.
Sementara itu, volume produksi emas nasional juga diproyeksikan bakal mengalami peningkatan dan bergerak stabil pada kisaran 130 ton hingga 140 ton per tahun.
"Yang ingin saya tekankan adalah hilirisasi pertambangan sudah berjalan dengan baik dan tadi juga sudah disampaikan bahwa program downstream industri pemanfaatan produk-produk hilirisasi tambang ini yang menjadi PR utama kita ke depannya," jelasnya.
Lebih lanjut, Rahmat menyoroti masih rendahnya tingkat penyerapan produk hasil hilirisasi di dalam negeri yang saat ini baru berada di kisaran 20% hingga 25% untuk komoditas tembaga. Sebagian besar hasil olahan mineral seperti stainless steel maupun produk nikel lainnya hingga kini masih didominasi oleh komoditas ekspor ke pasar global.
"Menurut kami tantangan utama dalam komoditas atau supply chain dari hulu sampai pada downstream industri bagaimana kita bisa ditingkatkan lebih tinggi lagi sehingga bukan hanya menyerap 20% tadi kalau bisa sebanyak mungkin," imbuhnya.
Baca Juga: Airlangga Ungkap Penggunaan AI di Vale (INCO) Tambah Produksi Nikel 182 Ton per Tahun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














