kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.595.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 17.912   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.071   -50,56   -0,83%
  • KOMPAS100 785   -8,35   -1,05%
  • LQ45 601   -6,98   -1,15%
  • ISSI 211   -1,12   -0,53%
  • IDX30 333   -4,43   -1,31%
  • IDXHIDIV20 424   -2,18   -0,51%
  • IDX80 90   -0,99   -1,09%
  • IDXV30 115   -0,39   -0,33%
  • IDXQ30 109   -0,96   -0,88%

Menteri Susi malu, 80% garam berasal dari impor


Minggu, 12 Juni 2016 / 17:20 WIB


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KUPANG. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengaku merasa malu, karena sebagian besar garam masih diimpor. Padahal Indonesia memiliki pantai perpanjang kedua di dunia.

"Masa lautnya terpanjang nomor dua di dunia, kita garamnya 80% impor. Kan sedih, malu," kata Susi ketika mengunjungi pegaraman Desa Bipolo, Kupang, NTT, Minggu (12/6).

Susi lantas mengatakan kepada masyarakat petambak garam di Desa Bipolo untuk bekerja keras meningkatkan produksi garam rakyat.

Soal kualitas, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga berjanji akan memberikan bantuan seperti teknologi membran. Susi juga meminta perusahaan pelat merah khususnya PT Garam (Persero) untuk membantu masalah logistiknya.

"Jadi, bapak-bapak di sini yang akan menutup malunya kita. Malunya pemerintah Indonesia, mudah-mudahan bisa ditolong karena Kupang bisa berproduksi garam bagus, biaya murah," ucap Susi.

Ditemui dalam kesempatan sama, Direktur Utama PT Garam (Persero) Achmad Budiono mengatakan, lahan tambak seluas 400 hektare yang digarap oleh masyarakat setempat dapat menghasilkan sekitar 36.000-40.000 ton per tahun dengan kualitas industri.

"Agustus 2016 mudah-mudahan sudah bisa panen," ucap Achmad. (Estu Suryowati)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×