Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Merck Tbk (MERK) menyiapkan Pabrik Pasar Rebo, Jakarta, untuk memperkuat kontribusi ekspor obat resep ke pasar Asia. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perseroan menghadapi berakhirnya kontrak manufaktur dengan Procter & Gamble (P&G) pada 31 Desember 2027.
Merck akan secara bertahap memproduksi sejumlah obat resep di Pabrik Pasar Rebo untuk memenuhi kebutuhan pasar Asia. Produk yang disiapkan mencakup Glucophage XR, Glucophage IR, Glucovance, dan Concor.
Ekspansi pasar tersebut akan dilakukan secara bertahap. Filipina menjadi salah satu pasar yang dituju pada 2026, kemudian ekspansi dilanjutkan ke Hong Kong, Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand dalam periode 2027 hingga 2029.
Baca Juga: Perpres Ojol Terbit, ADO Soroti Pembagian Pendapatan dan Perlindungan Driver
Direktur PT Merck Tbk Arryo Aritrixso Wachjuwidajat mengatakan, optimalisasi Pabrik Pasar Rebo merupakan bagian dari strategi perseroan untuk memperkuat bisnis obat resep sekaligus memperluas jangkauan pasar.
“Merck berkomitmen untuk memperkuat produksi dan pemasaran obat-obat resep sebagai bagian penting dari kontribusi kami bagi kesehatan masyarakat Indonesia, sekaligus mengoptimalkan kapabilitas Pabrik Pasar Rebo untuk mendukung kebutuhan pasar domestik dan memperluas jangkauan ke pasar Asia,” ujar Arryo dalam Public Expose 2026, Kamis (8/10/2026).
Menurut Arryo, Merck akan tetap berfokus pada bisnis obat resep setelah tidak lagi memproduksi produk Consumer Health. Perseroan akan mengandalkan kombinasi produksi di Pabrik Pasar Rebo dan impor produk jadi berbasis bioteknologi untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia.
Saat ini, sekitar 60% penjualan bisnis Healthcare Merck berasal dari produk bioteknologi impor. Sementara itu, sekitar 40% berasal dari produk yang diproduksi sendiri.
Strategi optimalisasi Pabrik Pasar Rebo menjadi semakin penting seiring dengan berakhirnya kerja sama manufaktur dengan P&G. Kontrak tersebut akan berakhir pada 31 Desember 2027 dan setelahnya Merck tidak lagi memproduksi produk Consumer Health.
Di tengah perubahan struktur bisnis tersebut, kinerja Merck masih menunjukkan pertumbuhan. Pada semester I 2026, laba bersih perseroan meningkat sekitar 396% secara tahunan atau hampir empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan laba tersebut terjadi meski volume produk P&G turun 0,7%. Penurunan volume terutama disebabkan Merck tidak lagi memasok produk dalam bentuk liquid. Namun, harga pasokan meningkat 98% seiring penyesuaian harga berdasarkan Manufacturing Supply Agreement (MSA) terbaru.
Dari sisi keuangan, Merck juga memiliki ruang yang cukup untuk menjalankan transformasi bisnis. Hingga semester I 2026, debt-to-equity ratio berada di kisaran 0,27 kali dan current ratio mencapai 5 kali. Sementara return on assets tercatat 9,10% dan return on equity sebesar 11,59%.
Meski akan menjadi salah satu penopang strategi bisnis Merck ke depan, Pabrik Pasar Rebo juga menghadapi tekanan akibat perubahan prospek bisnis manufaktur.
Merck sebelumnya mengumumkan pencatatan penurunan nilai aset Pabrik Pasar Rebo sebesar Rp87 miliar pada 30 September 2026. Penurunan nilai tersebut terutama dipengaruhi perubahan material terhadap prospek volume produksi, tingkat utilisasi kapasitas, dan arus kas masa depan menjelang berakhirnya MSA dengan P&G.
Berdasarkan penilaian independen KJPP Suwendho Rinaldy dan Rekan, nilai pasar aset Pabrik Pasar Rebo ditetapkan sebesar Rp93 miliar per 31 Agustus 2026.
Dengan menerapkan pendekatan konservatif sesuai panduan Merck Group Accounting dan ketentuan PSAK, perseroan mengakui beban penurunan nilai sebesar Rp87 miliar. Setelah penyesuaian tersebut, nilai buku neto aset Pabrik Pasar Rebo menjadi Rp75 miliar.
Direktur PT Merck Tbk Bambang Nurcahyo mengatakan, evaluasi nilai aset dilakukan bersama penilai independen untuk memastikan pencatatan sesuai dengan kondisi aset dan ketentuan akuntansi yang berlaku.
“Transparansi adalah prinsip yang kami pegang. Karena itu, kami mengevaluasi nilai aset Pabrik Pasar Rebo secara cermat bersama penilai independen dan mencatat penurunan nilai tersebut sesuai dengan hasil evaluasi serta ketentuan akuntansi yang berlaku,” kata Bambang.
Menurut perseroan, pencatatan penurunan nilai aset tersebut tidak menghilangkan rencana optimalisasi Pabrik Pasar Rebo. Justru, fasilitas tersebut akan diarahkan untuk mendukung kebutuhan obat resep di pasar domestik sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap pasar ekspor Asia.
Di sisi bisnis, Merck masih memiliki sejumlah produk yang menjadi pemimpin pasar di berbagai area terapi. Produk tersebut antara lain Euthyrox dan Thyrozol untuk terapi tiroid, Concor untuk kardiovaskular, Glucophage dan Glucovance untuk diabetes, Mavenclad dan Rebif untuk multiple sclerosis, Pergoveris dan Gonal-f untuk fertility, Saizen untuk growth hormone, serta Erbitux untuk onkologi.
Perseroan mencatat pertumbuhan sebesar 7,7%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pasar total sebesar 6,2% dan pasar ethical sebesar 6,5%. Merck juga menempati posisi kedelapan dalam peringkat perusahaan farmasi asing atau multinational corporation (MNC) di Indonesia.
Selain mempertahankan produk yang telah memiliki posisi kuat, Merck terus mengakselerasi Bavencio dan Mavenclad. Perseroan juga telah meluncurkan TEPMETKO (tepotinib) untuk pengobatan kanker paru-paru.
Merck turut menjajaki potensi penambahan portofolio dari akuisisi SpringWorks. Namun, produk tersebut akan disesuaikan terlebih dahulu dengan kelayakan bisnis dan kebutuhan pasar Indonesia.
Baca Juga: Peneliti Celios: Waspada Krisis Logistik yang Berdampak Ke Ekonomi Nasional
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














