kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45866,25   0,74   0.09%
  • EMAS918.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.32%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Merger-akusisi jadi opsi perluas pasar dan bangun ekosistem di bisnis telekomunikasi


Minggu, 01 Agustus 2021 / 19:15 WIB
Merger-akusisi jadi opsi perluas pasar dan bangun ekosistem di bisnis telekomunikasi
ILUSTRASI. Seorang teknisi melakukan pemeliharaan perangkat Base Transceiver Station (BTS) milik XL Axiata . ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/wsj.

Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri telekomunikasi dan bisnis penyedia layanan internet semakin kompetitif seiring dengan penetrasi pasar yang masih terbuka lebar. Aksi korporasi berupa merger-akuisisi pun marak, dari sisi hulu di bisnis menara telekomunikasi hingga ke operator selular dan penyedia layanan internet.

Terbaru, PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan Axiata Group Berhad diinformasikan akan menjadi pengendali baru PT Link Net Tbk (LINK), setelah EXCL dan Axiata mengakuisisi 1,82 miliar saham atau setara 66,03% modal disetor Link Net.

Sebelumnya, rencana merger PT Indosat Tbk (ISAT) dengan PT Hutchison 3 Indonesia (Tri) terlebih dulu diumumkan. Meski jadwal konsolidasi kedua perusahaan tersebut terus mundur hingga menjadi 16 Agustus 2021.

Peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef Nailul Huda menilai, langkah merger-akuisisi di industri telekomunikasi merupakan strategi perusahaan dalam memperluas jaringan dan pengembangan bisnis. Konsolidasi menjadi langkah strategis untuk meraih peluang pasar telekomunikasi dan layanan internet yang terus mengembang.

 

 

"Tampaknya konsolidasi, akuisisi, ataupun merger juga menjadi salah satu strategi untuk tidak membangun jaringan dari awal. Mereka bisa bersaing dengan kompetitor masing-masing dengan memperkuat jaringannya ke daerah yang mungkin terbatas, namun terjangkau oleh mitranya, ataupun sebaliknya," kata Huda kepada Kontan.co.id, Minggu (1/8).

Baca Juga: Begini strategi Indihome capai target hingga akhir tahun 2021

Sebab, untuk mengembangkan jaringan dan memperluas pasar membutuhkan waktu yang tidak instan jika dikerjakan sendirian. Dengan begitu, dampak terhadap revenue atau laba pun akan lebih lama.

Di sisi lain, konsolidasi berupa merger atau akuisisi juga menjadi salah satu cara pengembangan ekosistem di kalangan perusahaan telekomunikasi. "Perusahaan berbasis teknologi sepertinya sedang ramai juga mengembangkan ekosistem," sambung Huda.

Dihubungi terpisah, Founder IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwin mengungkapkan, pandemi covid-19 semakin membuka penetrasi pasar industri telekomunikasi. Layanan berbasis digital pun semakin dibutuhkan dan variatif. 

"Artinya kebutuhan tak sekadar konektivitas, tetapi akses yang berkualitas sehingga investasi di sektor infrastruktur dan solusi akan terus ada memenuhi kebutuhan masyarakat," kata Doni.

Dengan semakin kompetitifnya pasar industri telekomunikasi di Indonesia, Doni berharap kondisi ini akan berdampak baik bagi masyarakat. Dengan begitu, pengguna akan mendapatkan efek positif dari sisi harga maupun kualitas layanan.

Meski begitu, Doni memberikan catatan, perang harga yang tak mencerminkan biaya investasi dan produksi tidak melulu menjadi strategi untuk mengakuisisi pelanggan. "Ke depan setelah konsolidasi harusnya alat untuk mengambil pelanggan mendahulukan kualitas dan variasi layanan, baru harga," pungkas Doni.

Selanjutnya: Setelah akuisisi, XL Axiata (EXCL) akan menggelar tender offer saham Link Net (LINK)

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×