kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Meski lambat, konversi BBM ke BBG diklaim masih tetap berjalan


Kamis, 02 Agustus 2018 / 21:04 WIB
Meski lambat, konversi BBM ke BBG diklaim masih tetap berjalan
ILUSTRASI. BBG Angkot Bogor


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) sempat gencar digaungkan. Program konversi dari Bahan Bakar Minyak (BBM) ke BBG di sektor transportasi disebut-sebut ingin diseriusi.

Sebagai bukti, lahir Peraturan Presiden (Perpres) RI Nomor 125 Tahun 2015 tentang perubahan atas Perpres Nomor 64 Tahun 2012 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga BBG untuk Transportasi Jalan. Namun, sudah sejauh mana program ini berjalan.

Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito mengakui, ada kendala dalam program ini. Utamanya, karena kurangnya dukungan dari sisi regulasi untuk mengikat masyarakat agar beralih ke BBG. Di samping itu, harga jual Compressed Natural Gas (CNG) Rp 3.100/LSP di Jabodetabek, dinilai belum ekonomis.

Saat ini, ada 57 unit Stasiun Pengisian Bahan bakar Gas (SPBG) yang dikelola Pertamina retail dan mitra. “Pasar BBG memang cukup besar. Namun karena masyarakat belum wajib beralih ke BBG, pasar tersebut jadi masih terbatas. 

Jadi mesti ada pembahasan yang lebih komprehensif. Termasuk antara regulator dan produsen kendaraan,” terang Adiatma kepada Kontan.co.id, pada Kamis (2/8).

Lain hal nya dengan Perusahaan Gas Negara (PGN). Menurut Direktur Komersil PGN, Danny Praditya, BBG dalam transportasi ini berpotensi akan semakin membaik. Namun, Danny lebih senang menyebut program ini bukan sebagai konversi, namun diversifikasi.

“Kalau konversi itu kan berarti seluruh Indonesia harus punya program yang sama. Tetapi ini kita selected area, dimana ada gas dan infrastrukturnya, itu kita kembangkan buat transportasi,” ujar Danny.

Danny menyebut, kolaborasi antara pemerintah dan komunitas menjadi kunci sukses atau tidaknya penerapan BBG. “Kita punya contoh adanya intervensi Pemerintah, seperti di Batam, pertumbuhannya menarik. Juga concern untuk develop komunitas. Seperti di Jakarta, kita punya komunitas Bajaj Gas. Daerah lain seperti Sukabumi dan Serang juga ada komunitas,” imbuhnya.




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×