Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Layanan Over-The-Top (OTT) WeTV Indonesia menyiapkan sejumlah strategi untuk mempertahankan dan menarik pelanggan di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap tayangan micro drama atau drama berdurasi pendek berformat video vertikal, khususnya yang berasal dari Tiongkok (China).
Berdasarkan laporan Media Partners Asia, bisnis micro drama secara global diproyeksikan mampu menghasilkan pendapatan sebesar US$ 16 miliar pada 2026 dan berpotensi meningkat hingga US$ 26 miliar pada 2030.
Country Head WeTV Indonesia Febriamy Hutapea mengatakan bahwa durasi singkat yang dipadukan dengan alur cerita yang kuat dan berkelanjutan menjadi keunggulan utama micro drama asal China. Format ini dinilai relevan dengan pola konsumsi konten digital masyarakat saat ini.
Baca Juga: Asosiasi Baru AMDATARA Resmi Berdiri, Perkuat Tata Kelola Industri AMDK
Menurutnya, micro drama China menjadi salah satu format konten yang berperan penting dalam mendorong pertumbuhan WeTV. Kehadirannya tidak hanya meningkatkan jumlah penonton, tetapi juga berfungsi sebagai entry point untuk menjangkau segmen audiens baru.
“Micro drama China menjadi pintu masuk bagi pengguna baru, sekaligus meningkatkan frekuensi kunjungan dan kebiasaan menonton di platform WeTV,” ujar Febriamy kepada Kontan.co.id, Jumat (9/1/2026).
Hingga saat ini, WeTV telah menayangkan 74 judul micro drama asal China. Beberapa judul yang mencatatkan minat tinggi antara lain Mr. Gu, Your Wife Has Blocked You Again; Daddy, I Found Mommy; Don't Fall For Me; Mommy, Run Away, Daddy Is Chasing You; serta The Best Couple.
Fenomena tersebut turut mendorong cross-consumption di dalam platform. Pengguna yang awalnya menonton micro drama, kemudian menjelajah konten lain seperti drama China (Dracin) maupun serial original WeTV.
Dari sisi bisnis, micro drama China juga berkontribusi positif terhadap kinerja WeTV, baik melalui peningkatan engagement, pendapatan iklan, maupun konversi ke layanan berlangganan.
Baca Juga: RFCC Complex Jadi Tulang Punggung RDMP Kilang Balikpapan
Menyadari momentum tersebut, WeTV berupaya memperkuat daya saingnya di segmen micro drama melalui pemanfaatan ekosistem global Tencent, sebagai induk usaha WeTV.
“WeTV memanfaatkan kekuatan ekosistem Tencent, baik dari sisi konten, teknologi, maupun pemahaman terhadap perilaku audiens,” kata Febriamy.
Melalui dukungan Tencent, WeTV memiliki akses terhadap tren storytelling, inovasi format, serta praktik pengembangan micro drama yang telah berkembang lebih pesat di China.
Selain itu, dukungan teknologi dan data insight memungkinkan WeTV mengoptimalkan pengalaman menonton melalui sistem rekomendasi dan distribusi konten yang lebih presisi.
Dalam hal monetisasi, WeTV menerapkan model transaksi per episode. Pengguna dapat membuka episode secara satuan atau membeli seluruh episode dalam satu paket dengan harga yang lebih ekonomis.
Selain itu, WeTV juga mengintegrasikan micro drama ke dalam skema freemium dan akses berbayar berbasis one-time purchase.
Baca Juga: Begini Strategi BUMN Energi Percepat Pengolahan Batubara ke Produk Substitusi Impor
Artinya, sejumlah judul dapat diakses gratis dengan batasan tertentu, sementara akses penuh atau lebih cepat tersedia melalui pembayaran satu kali.
Dari sisi iklan, micro drama dinilai memiliki potensi monetisasi yang kuat melalui penayangan iklan berbasis video.
Tingginya tingkat konsumsi dengan durasi singkat namun berulang membuat format ini efektif untuk penempatan iklan tanpa mengganggu pengalaman menonton.
Ke depan, strategi WeTV tidak hanya berfokus pada penambahan volume konten micro drama, tetapi juga pada penguatan kurasi dan relevansi cerita agar selaras dengan preferensi audiens lokal.
Dengan pendekatan tersebut, Febriamy menegaskan bahwa segmen micro drama tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang WeTV di Indonesia.
Selanjutnya: Keterampilan Wajib: 5 High-Income Skills yang Menjamin Posisi Tawar Gaji
Menarik Dibaca: 12 Kebiasaan di Malam Hari yang Bikin Susah Kurus, Apa Saja?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













