kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.965.000   -10.000   -0,51%
  • USD/IDR 16.830   0,00   0,00%
  • IDX 6.438   38,22   0,60%
  • KOMPAS100 926   8,20   0,89%
  • LQ45 723   5,45   0,76%
  • ISSI 205   2,17   1,07%
  • IDX30 376   1,61   0,43%
  • IDXHIDIV20 454   0,42   0,09%
  • IDX80 105   1,01   0,98%
  • IDXV30 111   0,45   0,40%
  • IDXQ30 123   0,28   0,22%

MIND ID Ungkap Freeport Ajukan Relaksasi Ekspor Tembaga Akibat Force Majeure


Kamis, 09 Januari 2025 / 18:34 WIB
MIND ID Ungkap Freeport Ajukan Relaksasi Ekspor Tembaga Akibat Force Majeure
Menteri BUMN Eric Thohir bersama Direktur Utama MIND ID Hendi Priyo Santoso saat MINDialogue bertema Hilirisasi dan Industrialisasi Strategi Kunci Menuju Indonesia Emas 2045, di Jakarta, Kamis (9/1//2025).


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  PT Freeport Indonesia (PTFI) tengah mengupayakan izin relaksasi ekspor konsentrat tembaga kepada pemerintah. Ini dilakukan setelah pengolahan di fasilitas smelter yang berada di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur terhambat.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, proses pengajuan perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat tembaga menjadi ranah dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Sementara itu, Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID Dilo Seno Widagdo mengatakan, kondisi force majeure menjadi alasan utama pengajuan relaksasi ekspor konsentrat tembaga Freeport.

Force majeure ini membuat smelter belum bisa beroperasi optimal. Baru sekitar 40% dari kapasitas produksi yang berjalan. Kami mengajukan izin untuk tetap bisa mengekspor hingga perbaikan selesai dan kapasitas meningkat secara bertahap,” ujar Dilo, Kamis (9/1).

Menurut Dilo, proses peningkatan kapasitas smelter akan dilakukan secara bertahap mulai Juni 2024 hingga Desember 2024.

Baca Juga: Bos MIND ID Sayangkan Serapan Bahan Baku Domestik Masih Minim

Ramp-up produksi direncanakan mulai dari 40%, kemudian 60%, 80%, hingga mencapai kapasitas penuh pada akhir tahun. Namun, pemerintah dikabarkan hanya memberikan izin ekspor hingga pertengahan tahun, lebih pendek dari yang diajukan Freeport.

“Awalnya, kami mengajukan izin relaksasi ekspor selama satu tahun penuh. Tapi mungkin pemerintah mempertimbangkan agar kami lebih cepat menyelesaikan perbaikan smelter. Jadi, kemungkinan izinnya tidak sampai Desember,” tambahnya.

Dengan terhambatnya ekspor konsentrat tembaga ini dipastikan menimbulkan dampak finansial bagi Freeport. Dari total produksi konsentrat tembaga, sekitar 1,7 juta ton seharusnya dialokasikan ke smelter di JIIPE di Gresik.

Namun, dengan belum optimalnya pengoperasian smelter, volume tersebut tidak bisa sepenuhnya terserap di dalam negeri.

“Kalau enggak bisa ekspor, ya enggak ada pendapatan. Potensinya, kami kehilangan penjualan dari 1,7 juta ton konsentrat,” kata Dilo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

[X]
×