kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45881,69   -1,13   -0.13%
  • EMAS924.000 -0,22%
  • RD.SAHAM -0.33%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Mochtar Riady, konseptor awal Ovo yang tak risih memakai handuk bolong


Jumat, 15 Mei 2020 / 00:43 WIB
Mochtar Riady, konseptor awal Ovo yang tak risih memakai handuk bolong
ILUSTRASI. Pendiri Lippo Group Mochtar Riady./pho KONTAN/Carolus Guas Waluyo/08/05/2019.

Reporter: Sandy Baskoro | Editor: Sandy Baskoro

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mengenakan kemeja cokelat bermotif polkadot, Pendiri dan Chairman Grup Lippo Mochtar Riady mengaku grogi saat berbicara di forum seminar virtual Jakarta Chief Marketing Officer Club bertema Business Wisdom During COVID-19 Era, Kamis (14/5).

Host seminar virtual tersebut, Hermawan Kartajaya yang merupakan pendiri MarkPlus Inc, mengundang khusus Mochtar sebagai pembicara tunggal di acara bertema Business Wisdom During COVID-19 Era.

Baca Juga: Ini warning Mochtar Riady terkait krisis ekonomi akibat wabah Covid-19

Mochtar, yang pada 12 Mei lalu genap berusia 91 tahun mengaku sempat menolak undangan tersebut sebanyak tiga kali. "Saya grogi bicara tentang hal yang baru. Namun saya yakin, di mata Hermawan, saya baru berusia 40 tahun. Tiga hari lalu, saya ambil keputusan untuk berbicara di acara ini," imbuh Mochtar.

Para peserta seminar antara lain Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga; Chairman Datascrip, Joe Kamdani; Chairman Jababeka, Setyono Djuandi Darmono; juga sejumlah anggota keluarga Mochtar seperti menantunya Aileen Hambali (istri James Riady); serta salah seorang cucunya, Henry Riady.

Disaksikan peserta seminar dari beragam latar belakang, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, ini begitu fasih memaparkan perkembangan ekonomi dan revolusi industri global, selama kurang lebih satu jam.

Baca Juga: Mochtar Riady: Wabah Covid-19 memaksa kita hidup dalam teknologi baru

Mochtar berujar, wabah corona (Covid-19) pada awal tahun ini, secara tak sadar telah memaksakan kita membiasakan diri untuk hidup dalam teknologi baru. Ini merupakan konsekuensi Revolusi Industri 4.0.

"Kemudian ditambah augmented reality, virtual reality, maka bangsa kita sudah diarahkan untuk membiasakan diri di dunia teknologi yang baru ini," ucap taipan yang memiliki kekayaan US$ 2,1 miliar dan menempatkannya di urutan ke-12 orang paling tajir di Indonesia versi Majalah Forbes pada 2019.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×