Sumber: Kompas.com | Editor: Sanny Cicilia
JAKARTA. PT Kereta Api Indonesia berencana menghapuskan subsidi untuk kereta api (KA) ekonomi jarak jauh dan jarak sedang per tanggal 1 Januari 2015. Para penggunanya, ada yang setuju, ada pula yang tidak.
Sumarni (50) merupakan salah satu pengguna yang tidak sepakat dengan kebijakan tersebut. Menurut dia, kenaikan tarif KA ekonomi akan membebani pengguna yang menginginkan tarif murah dengan menumpang KA tersebut.
"Naik ekonomi kan biar murah, malah dibikin mahal. Kalau naik, tarifnya sudah hampir sama dengan bisnis, enggak ada bedanya dong," ujarnya saat ditemui di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (25/10).
Sumarni menilai, KA ekonomi jarak jauh adalah andalan bagi siapa saja yang ingin berpergian dengan biaya murah. Ia pun mengaku senang, saat ini, fasilitas yang ia dapat di KA tersebut jauh lebih baik daripada sebelumnya.
"Ya, kalau bisa fasilitasnya begini terus, toiletnya airnya nyala, AC-nya dingin. Tapi jangan naik tarifnya, he-he-he," kata dia.
Berbeda dengan Sumarni, Edi (45) mengungkapkan hal yang sebaliknya. Bagi Edi, meskipun kerap menggunakan KA ekonomi, kenaikan tarif dianggap wajar. Apalagi jika tujuannya untuk memperbaiki fasilitas.
"Enggak apa-apa naik (tarifnya), toh juga enggak setiap hari naik kereta jarak jauh, kan? Paling orang hanya sekali-kali saja pakai. Lagipula biaya Rp 65.000 itu dari Jakarta sampai Malang apa enggak terlalu murah?" kata pengguna KA Ekonomi Matarmaja ini.
Sebelumnya, Dirjen KA dari Kementerian Perhubungan Hermanto Dwiatmoko mengatakan, subsidi yang diperuntukan untuk KA ekonomi akan dialihkan untuk KA lokal dan commuter. Pengalihan subsidi ini lantaran alasan keefektifan.
"Pengguna KA jarak jauh dan jarak sedang lebih sedikit dibandingkan dengan penguna KA commuter yang merupakan pekerja dan pelaju dengan jumlah frekuensi yang besar," kata dia. (Unoviana Kartika)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













