kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Pabrik baru Semen Baturaja (SMBR) akan beroperasi di tahun 2025


Rabu, 21 Agustus 2019 / 18:44 WIB

Pabrik baru Semen Baturaja (SMBR) akan beroperasi di tahun 2025
ILUSTRASI. Pabrik Semen PT Semen Baturaja Tbk (SMBR)

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan semen, PT Semen Baturaja Tbk atau SMBR berencana menambah pabrik baru di Jambi.  Pabrik Semen Baturaja III itu akan memiliki kapasitas sebesar 2 juta ton per tahun.

"Tahapnya hingga saat ini sampai feasibility study," kata Direktur Utama Semen Baruraja Jobi Triananda Hasjim dalam konferensi pers yang digelar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (21/8). Jika tidak ada hambatan, feasibility study akan selesai di awal tahun 2020. 

Baca Juga: Industri kemasan plastik didorong pertumbuhan consumer goods

Direktur PT Semen Baturaja (Persero) Tbk M Jamil menambahkan, dengan adanya pabrik baru ini kapasitas produksi SMBR akan mencapai 6 juta ton per tahun. Paling lambat, kata Jamil, pabrik ini akan selesai di tahun 2025. 

Sekadar informasi, saat ini perusahaan memiliki empat pabrik, yakni dua pabrik terletak di Baturaja, satu pabrik di Palembang, dan satu pabrik lainnya di Lampung. Adapun pabrik di Palembang dan Lampung masing berkapasitas produksi 350.000 ton per tahun. Sementara dua pabrik di Baturaja memiliki kapasitas 3,15 juta ton per tahun. 

Kondisi industri semen saat ini yang kelebihan pasokan tidak menghentikan SMBR melakukan penambahan pabrik. Menurut Jobi, permintaan dan pasokan industri semen memang sulit menemui titik seimbang.  

Ia mencontohkan, jika ada pabrik semen baru maka terjadi kenaikan pasokan dan permintaan pasar tidak bisa mengimbanginya. Sebaliknya, jika permintaan semen sedang naik, maka pasokan semen kemungkinan kurang dan akan terjadi kelangkaan. Sehingga, akan ditambahkan pabrik baru.

Baca Juga: Konsep fully recyclable (furec) jadi solusi industri kemasan fleksibel

Overdemand dan oversupply di industri semen terjadi secara terus menerus. Lima hingga enam tahun mendatang, menurut Jobi, pertumbuhan permintaan yang ada sudah bisa mengejar kelebihan  pasokan yang terjadi.  


Reporter: Kenia Intan
Editor: Tendi

Video Pilihan


×