Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada 19 Februari 2026 dalam kunjungan resmi Prabowo ke AS.
Kesepakatan dagang timbal balik ini mencakup komitmen Indonesia untuk membeli produk energi dari AS senilai sekitar US$ 15 miliar atau setara Rp 250 triliun, dengan asumsi kurs Rp 16.700 per dolar AS.
Produk energi yang akan diimpor meliputi liquefied petroleum gas (LPG), minyak mentah (crude oil), serta bahan bakar minyak (BBM).
Baca Juga: Nilai Impor Indonesia Capai US$ 241,86 Miliar di 2025, Naik 2,83%
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut pembelian energi menjadi salah satu pilar utama ART, yang dirancang untuk menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia–AS.
Detail teknis kerja sama akan dimatangkan dalam rangkaian pertemuan bilateral selama kunjungan Presiden Prabowo.
Dari sisi operator, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyatakan Pertamina akan menjalankan mandat pemerintah dengan mengedepankan tata kelola yang baik dan mendukung target ketahanan energi nasional dalam kerangka Asta Cita.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, kesepakatan ini berpotensi memberikan manfaat ekonomi apabila dirancang secara disiplin.
Baca Juga: BPS: Impor Indonesia Mencapai US$ 136,51 Miliar di Periode Januari-Juli 2025
Pertama, kontrak pembelian LPG dan crude oil dari AS dapat mengurangi risiko gangguan pasokan di tengah volatilitas pasar global, baik akibat cuaca ekstrem, gangguan jalur pelayaran, maupun tensi geopolitik.
“Kedua, kontrak LNG jangka menengah dengan fleksibilitas destinasi bisa memperkuat pasokan gas untuk pembangkit dan industri, terutama saat pasar global mengalami pergeseran,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (12/2/2026).
Selain itu, bila ART benar-benar memberikan imbal balik berupa penurunan tarif atau kepastian akses pasar bagi produk ekspor Indonesia, kenaikan impor energi dapat dikompensasi oleh peningkatan ekspor manufaktur dan produk padat karya ke AS.
Momentum pasar juga dinilai relatif kondusif. Pasokan minyak global cenderung longgar, seiring produksi AS yang kembali mendekati rekor dan lonjakan stok minyak mentah akibat gangguan operasional kilang.
Kondisi ini membuka ruang negosiasi harga yang lebih kompetitif bagi pembeli seperti Indonesia.
Baca Juga: Wamen ESDM: KPK Minta Standar Produk Impor Energi Pertamina
Namun, ART bukan tanpa risiko. Syafruddin mengingatkan, komitmen impor energi sebesar US$ 15 miliar berpotensi memperlebar defisit migas dan menekan neraca berjalan jika imbal dagang di sektor ekspor tidak terealisasi secara nyata.
“Pemerintah perlu menetapkan target yang terukur, seperti pos tarif yang diturunkan, tambahan nilai ekspor, dan jadwal implementasi yang jelas,” katanya.
Risiko lain datang dari struktur kontrak LNG. Skema take-or-pay yang kaku berpotensi menimbulkan beban fiskal jika harga spot turun atau permintaan domestik melambat. Fleksibilitas volume, klausul price review, serta opsi pengalihan kargo menjadi kunci mitigasi.
Dari sisi makro, pembelian energi berbasis dolar AS meningkatkan eksposur nilai tukar. Tanpa strategi lindung nilai (hedging) yang memadai, volatilitas kurs dapat langsung menekan inflasi domestik.
Baca Juga: Amerika Serikat (AS) Desak Jepang Hentikan Impor Energi dari Rusia
Selain itu, pergeseran porsi impor ke AS berisiko mengurangi daya tawar Indonesia terhadap pemasok tradisional di Timur Tengah, yang saat ini agresif menjaga pangsa pasar Asia melalui diferensial harga. Diversifikasi pasokan tetap menjadi strategi penting.
Praktisi migas Hadi Ismoyo menyoroti aspek biaya. Menurutnya, impor minyak dan gas dari AS relatif kurang kompetitif dari sisi shipping cost, ketersediaan armada, dan asuransi dibandingkan pemasok regional.
“Untuk komoditas migas memang lebih mahal. Tapi dari perspektif lebih luas, imbal dagang ini menyelamatkan ekspor Indonesia ke AS,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (12/2/2026).
Baca Juga: IWIP Kembangkan Proyek Energi Hijau US$ 2 Miliar, Mencakup PLTS dan PLTB
Hadi menilai, secara total kesepakatan tersebut masih bersifat win-win, mengingat nilai ekspor Indonesia ke AS lebih besar dan berperan menjaga keberlangsungan ribuan tenaga kerja berorientasi ekspor, setidaknya hingga Indonesia menemukan pasar alternatif non-AS.
Selanjutnya: Asuransi Diminta Tambah Investasi ke Saham 20%, Ciputra Life Soroti Risiko Likuiditas
Menarik Dibaca: Anti Pucat! Ini 4 Warna Lipstik yang Cocok untuk Kulit Kuning Langsat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Bahlil Lahadalia
- Ekspor Indonesia
- Neraca Perdagangan
- Pertamina
- Prabowo Subianto
- Donald Trump
- Hadi Ismoyo
- Ketahanan Energi
- Pasokan Energi
- Kurs Dolar AS
- Syafruddin Karimi
- Defisit Migas
- BBM impor
- LPG Impor
- Agreement on Reciprocal Trade
- ART Indonesia AS
- Perdagangan RI AS
- Impor energi AS
- Minyak mentah impor
- Volatilitas pasar global
- Skema take-or-pay
- Hedging nilai tukar













