kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.023.000   -45.000   -1,47%
  • USD/IDR 16.823   -17,00   -0,10%
  • IDX 8.322   41,40   0,50%
  • KOMPAS100 1.169   5,71   0,49%
  • LQ45 843   5,44   0,65%
  • ISSI 297   2,30   0,78%
  • IDX30 446   4,50   1,02%
  • IDXHIDIV20 535   5,84   1,10%
  • IDX80 130   0,54   0,41%
  • IDXV30 146   2,84   1,99%
  • IDXQ30 144   1,31   0,92%

Para Pedagang: Indonesia Berpotensi Kesulitan Penuhi Janji Lonjakan Impor Pangan AS


Rabu, 25 Februari 2026 / 17:00 WIB
Para Pedagang: Indonesia Berpotensi Kesulitan Penuhi Janji Lonjakan Impor Pangan AS
ILUSTRASI. Butiran Kedelai Impor Asal Amerika (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Indonesia dinilai berpotensi menghadapi tantangan dalam memenuhi komitmen peningkatan impor produk pertanian Amerika Serikat (AS) sesuai kesepakatan dagang terbaru kedua negara.

Berdasarkan laporan Reuters Rabu (25/2/2026), para pelaku perdagangan menilai lonjakan target impor khususnya gandum, kedelai, dan bungkil kedelai (soymeal) berisiko melampaui kebutuhan domestik serta mengganggu keseimbangan pasokan.

Baca Juga: Penjualan Wholesales Inchcape Tumbuh 105% Sepanjang 2025

Kesepakatan dagang terbaru tersebut memangkas tarif AS atas produk Indonesia menjadi 19% dari sebelumnya 32%, dengan sejumlah komoditas utama seperti minyak sawit, kakao, dan karet dibebaskan dari bea masuk.

Sebagai imbalannya, Indonesia berkomitmen meningkatkan impor gandum AS menjadi 2 juta ton per tahun dari 1,1 juta ton pada tahun lalu. I

mpor kedelai ditargetkan naik menjadi 3,5 juta ton dari 2,2 juta ton, sementara bungkil kedelai melonjak drastis menjadi 3,8 juta ton dari hanya 216.257 ton pada 2025.

Gandum: Ruang Kenaikan Dinilai Terbatas

Seorang trader dari perusahaan perdagangan internasional yang memasok gandum dan biji-bijian pakan ke Indonesia mengatakan, pembelian gandum AS memang sudah meningkat dalam dua tahun terakhir.

“Pabrik penggilingan Indonesia memang sudah membeli lebih banyak gandum AS. Pada 2025 pembelian mencapai 1,1 juta ton, naik dari 750.000 ton setahun sebelumnya,” ujarnya.

Baca Juga: Ancaman Defisit Biodiesel: Kebijakan di Atas B40 Picu Krisis Energi Dini

Namun, ia menilai ruang kenaikan tetap terbatas. “Secara realistis, paling tinggi mereka bisa membeli 1,25 juta sampai 1,3 juta ton pada 2026,” tambahnya.

Artinya, target 2 juta ton per tahun dinilai cukup ambisius dibandingkan kebutuhan dan kapasitas serapan industri dalam negeri.

Kedelai: Jangan Sampai Melebihi Kebutuhan

Untuk kedelai, Indonesia memang selama ini mengimpor hampir seluruh kebutuhannya dari AS guna memenuhi permintaan industri tahu dan tempe. Konsumsi nasional berkisar 2,7–2,9 juta ton per tahun.

Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga menilai, komitmen impor 3,5 juta ton perlu dihitung secara cermat.

Baca Juga: Target 1 Juta Bph 2030, Praktisi Hukum Migas Usul Perpres Perizinan Proyek Energi

“Komitmen untuk membeli 3,5 juta ton per tahun perlu dinilai secara realistis agar tidak melebihi kebutuhan domestik dan mengganggu keseimbangan pasokan,” kata Hidayatullah.

Ia mengingatkan bahwa impor yang melampaui kebutuhan dapat menekan harga dan berisiko mengganggu stabilitas pelaku usaha di dalam negeri.

Bungkil Kedelai: Lonjakan Paling Signifikan

Kenaikan paling drastis terjadi pada komitmen impor bungkil kedelai (soymeal). Pada 2025, Indonesia hanya membeli 216.257 ton dari AS, sementara total impor soymeal mencapai 5,96 juta ton dari berbagai negara.

Dalam kesepakatan baru, Indonesia berkomitmen membeli 3,8 juta ton dari AS.

Seorang trader berbasis di Singapura mengatakan, pemerintah kemungkinan akan mengarahkan PT Berdikari untuk menyerap volume besar guna memenuhi komitmen tersebut.

“Karena komitmennya sangat tinggi, Indonesia bisa saja mengarahkan Berdikari untuk membeli dalam jumlah besar demi memenuhi kesepakatan dengan AS, meskipun harganya lebih tinggi dibanding pemasok lain,” ujarnya.

Pemerintah sendiri telah menugaskan Berdikari menjadi importir tunggal pakan ternak mulai 2026.

Baca Juga: Perizinan Berlapis, Proyek Energi Strategis Terancam Molor

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda sebelumnya menyatakan, perusahaan tersebut akan mengimpor sekitar 5 juta ton bungkil kedelai pada 2026 untuk memasok industri pakan dan peternak ayam rakyat.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Berdikari Hasbi Al-Islahi mengatakan, persiapan impor tengah dilakukan dan pihaknya masih menunggu regulasi teknis dari pemerintah yang ditargetkan terbit pada Maret.

Dengan skala peningkatan yang cukup besar, realisasi komitmen impor ini akan sangat bergantung pada kebutuhan riil domestik, dinamika harga global, serta kesiapan regulasi pelaksanaan impor.

Para pelaku pasar menilai keseimbangan antara diplomasi dagang dan stabilitas pasar dalam negeri akan menjadi kunci keberhasilan implementasi kesepakatan tersebut.

Selanjutnya: Grab Borong 253 Juta Saham SUPA, Kepemilikan Tembus 15%

Menarik Dibaca: Ramadhan With OYO, Ada Diskon Menginap hingga 75% dan Gratis Tambahan Menginap

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×