Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) angkat bicara mengenai rencana empat perusahaan besar asal China memangkas produksinya di Indonesia.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak empat perusahaan nikel asal China berencana mengurangi hingga 30% produksinya di Indonesia, antara lain Tsingsham Holding Group, GEM, Lygend Resources & Technology dan Zheijiang Huayou Cobalt.
Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey menjelaskan, rencana pengurangan produksi tak terlepas dari kondisi kelebihan pasokan yang menekan permintaan pasar. Menurutnya, penyesuaian produksi diperlukan ketika pasokan tidak sebanding dengan permintaan.
Baca Juga: Menakar Peluang dan Tantangan Penguatan Pasar Gas Bumi Domestik
"Domestik saat ini ada pengurangan karena lagi kondisi over (pasokan). Pengurangan itu bisa dipengaruhi oleh produksi, kemudian oleh beberapa daerah market itu mengurangi permintaan juga," kata Meidy saat ditemui di Kantor Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Kamis (29/10).
Ia menambahkan, tekanan juga terlihat dari tingginya persediaan nikel di bursa komoditas internasional, termasuk Shanghai Futures Exchange dan London Metal Exchange (LME). Di sisi lain, permintaan dari pasar akhir pun tengah melemah.
"Shanghai Futures Exchange lagi overstock, LME lagi overstock. Lalu market-nya sendiri, end market-nya, itu lagi berkurang," ujarnya.
Selain kondisi pasar, kenaikan biaya produksi turut menjadi pertimbangan perusahaan untuk mengurangi produksi. Meidy menyebut, biaya produksi saat ini lebih tinggi dibandingkan harga pasar.
"Pengurangan itu juga dipengaruhi oleh cost produksi yang saat ini sedang lebih tinggi dibandingkan harga market," jelasnya.
Meski demikian, APNI belum memperoleh informasi dtail mengenai besaran pengurangan produksi yang akan dilakukan oleh masing-masing perusahaan. Rencana tersebut masih dalam proses. "Belum, masih (on going)," imbuh Meidy.
Menurutnya, penyesuaian produksi diperlukan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan. Jika produksi tetap tinggi ketika permintaan melemah, perusahaan berisiko menghadapi kesulitan menjual hasil produksinya.
"Nanti kalau produksi lalu nggak ada yang beli, gimana. Tentu (alasan pemangkasan produksi) ada faktor internal, kedua karena global, ketiga karena cost produksi," katanya.
Baca Juga: Kecerdasan Buatan & Teknologi Digital Dorong Inovasi di Sektor Pendidikan dan Budaya
Di sisi lain, pengurangan produksi smelter berpotensi menekan penyerapan bijih nikel dari penambang domestik. Ia mengungkap indikasi penurunan serapan tersebut mulai terlihat belakangan ini.
Rata-rata penyerapan bijih nikel yang sebelumnya mencapai sekitar 25 juta ton per bulan pada tahun ini, katanya, turun menjadi sekitar 20 juta ton per bulan dalam dua bulan terakhir.
"Untuk dua bulan ini agak kelihatan ada penurunan, karena rata-rata tahun ini kan 25 juta (ton) per bulan. Dua bulan terakhir ini mungkin ada pengurangan, mungkin menjadi 20 jutaan (ton)," imbuh Meidy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














