kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.785.000   -13.000   -0,46%
  • USD/IDR 17.823   4,00   0,02%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Pelaku Industri Sawit Tunggu Kejelasan Skema DSI untuk Ekspor SDA Mulai 2027


Rabu, 27 Mei 2026 / 17:23 WIB
Pelaku Industri Sawit Tunggu Kejelasan Skema DSI untuk Ekspor SDA Mulai 2027
ILUSTRASI. Meski volume ekspor sawit Q1 2026 naik 11,91%, ketidakjelasan peran DSI mulai 2027 memicu kekhawatiran. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku industri kelapa sawit masih menunggu kejelasan teknis terkait rencana pelibatan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) termasuk crude palm oil (CPO) nasional mulai 2027.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan, hingga kini belum ada sosialisasi detail mengenai mekanisme implementasi kebijakan tersebut kepada pelaku usaha.

“Seharusnya sampai Desember yang melaksanakan ekspor tetap perusahaan atau eksportir, jadi masih tidak ada masalah. Untuk Januari full oleh DSI, ini belum ada sosialisasi detailnya,” ujar Eddy kepada Kontan, Rabu (27/5/2026).

Menurut Eddy, pelaku usaha masih menanti penjelasan mengenai tahapan transisi kebijakan ekspor sawit tersebut, termasuk skema pelaksanaan tahap pertama pada Juni–September 2026 dan tahap kedua pada September–Desember 2026.

Baca Juga: Investor China Sebut IKN Masih Menarik untuk Ekspansi Bisnis

Ia menilai kepastian aturan sangat penting agar eksportir dapat menyesuaikan kontrak dagang, pengiriman, hingga pengaturan logistik ekspor.

Ketidakjelasan teknis implementasi dinilai berpotensi menimbulkan hambatan dalam proses perdagangan, terutama bagi perusahaan yang telah memiliki kontrak ekspor jangka menengah hingga akhir tahun.

Di tengah ketidakpastian kebijakan tersebut, kinerja ekspor sawit nasional pada Maret 2026 justru mengalami tekanan. Data GAPKI menunjukkan total ekspor produk sawit turun 34,25% menjadi 2,168 juta ton dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 3,297 juta ton.

Penurunan ekspor terjadi pada berbagai produk turunan sawit. Ekspor CPO turun 75,61% menjadi 96.000 ton, ekspor olahan minyak sawit turun 33,57% menjadi 1,506 juta ton, serta ekspor olahan minyak inti sawit turun 44,67% menjadi 94.000 ton.

Eddy menyebut penurunan ekspor lebih dipengaruhi oleh lonjakan biaya logistik global akibat konflik geopolitik yang masih berlangsung.

“Akibat perang biaya angkutan dan asuransi naik sampai 50%, ini menyebabkan ekspor turun,” katanya.

Baca Juga: Startup Energi dan Kecerdasan Buatan Kian Dilirik, Ekosistem Pendanaan Makin Menguat

Menurut dia, kenaikan ongkos angkut dan premi asuransi membuat biaya ekspor sawit Indonesia meningkat sehingga menekan daya saing produk nasional di pasar internasional.

Meski secara bulanan mengalami penurunan, kinerja ekspor sawit nasional sepanjang Januari–Maret 2026 masih mencatat pertumbuhan positif. Volume ekspor tercatat naik 11,91% secara tahunan menjadi 8,546 juta ton.

Dari sisi nilai, ekspor sawit Indonesia meningkat 10,40% menjadi US$ 9,66 miliar. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya harga rata-rata CPO global yang mencapai US$ 1.356 per ton CIF Rotterdam.

Pelaku industri berharap pemerintah segera memberikan kepastian mengenai skema operasional DSI agar proses transisi tata kelola ekspor sawit dapat berjalan lancar tanpa mengganggu arus perdagangan maupun kontrak ekspor yang telah berjalan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×