kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.916.000   -1.000   -0,03%
  • USD/IDR 16.791   2,00   0,01%
  • IDX 8.980   4,90   0,05%
  • KOMPAS100 1.240   -4,48   -0,36%
  • LQ45 876   -6,31   -0,72%
  • ISSI 331   0,57   0,17%
  • IDX30 444   -6,39   -1,42%
  • IDXHIDIV20 519   -14,10   -2,64%
  • IDX80 138   -0,67   -0,49%
  • IDXV30 144   -3,64   -2,47%
  • IDXQ30 142   -2,84   -1,95%

PELNI Migrasi ke Satelit LEO untuk Pangkas Latensi dan Efisiensi Operasional Armada


Selasa, 27 Januari 2026 / 14:54 WIB
PELNI Migrasi ke Satelit LEO untuk Pangkas Latensi dan Efisiensi Operasional Armada
ILUSTRASI. Kapal Pelni (KONTAN/Amalia Fitri) PELNI mempercepat transformasi digital armadanya dengan mengimplementasikan SisKomKap berbasis satelit Low Earth Orbit (LEO). ?


Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau PELNI mempercepat transformasi digital armadanya dengan mengimplementasikan Sistem Komunikasi Kapal (SisKomKap) berbasis satelit Low Earth Orbit (LEO). 

Migrasi teknologi ini dilakukan melalui kerja sama dengan BuanterOne, unit layanan telekomunikasi satelit di bawah PT Dwi Tunggal Putra (DTP), untuk periode 2026–2029.

Langkah ini menandai peralihan PELNI dari teknologi satelit Geostationary Earth Orbit (GEO) ke LEO yang menawarkan latensi lebih rendah dan bandwidth lebih tinggi.

Secara teknis, satelit LEO beroperasi pada ketinggian sekitar 500–1.200 kilometer dari permukaan bumi dengan latensi di kisaran 70–100 milidetik (ms), jauh lebih rendah dibandingkan satelit GEO yang berada di ketinggian 35.786 kilometer dengan latensi 550–1.500 ms. 

Baca Juga: Strategi Ekspansi Trimitra Trans (BLOG) Perluas Jaringan Cold Storage di Luar Jawa

Perbedaan ini berdampak langsung pada kecepatan respons data, stabilitas koneksi, serta kemampuan pemantauan armada secara real-time.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT PELNI (Persero), Anik Hidayati, mengatakan modernisasi sistem komunikasi kapal menjadi bagian dari penguatan tata kelola perusahaan sekaligus peningkatan keselamatan dan kualitas layanan.

Ia melanjutkan bahwa pemanfaatan teknologi satelit LEO BuanterOne di seluruh armada PELNI merupakan wujud nyata digitalisasi maritim. Konektivitas yang lebih stabil memungkinkan koordinasi antara kantor pusat dan kru kapal berlangsung cepat dan akurat. 

"Ini bukan semata soal teknologi, tetapi menyangkut keselamatan pelayaran, efisiensi operasional, serta kenyamanan penumpang sebagai prioritas utama kami,” ujarnya di Jakatta, Selasa (27/2).

Dari sisi teknologi, Chief Sales & Marketing Officer (CSMO) BuanterOne, Budi Santoso, menjelaskan bahwa solusi yang disediakan dirancang untuk menjawab kompleksitas operasional pelayaran nasional. 

Layanan tersebut mencakup internet satelit LEO berkecepatan tinggi, sistem pemantauan kapal berbasis Vessel Monitoring System (VMS) dan Automatic Identification System (AIS), pemantauan on-time performance secara real-time, serta layanan komunikasi suara melalui SatPhone dan VoIP.

Selain itu, sistem ini dilengkapi infrastruktur Wi-Fi kapal dan fitur out-of-band management yang memungkinkan pengelolaan serta pemeliharaan perangkat dilakukan dari jarak jauh.

“Melalui konvergensi teknologi satelit LEO dan sistem monitoring seperti AIS dan VMS, manajemen PELNI dapat memiliki visibilitas penuh terhadap armada setiap saat. Kami membawa teknologi masa depan ke kapal hari ini untuk mendukung operasional yang lebih aman, efisien, dan terukur,” kata Budi.

Implementasi SisKomKap berbasis satelit LEO ini diharapkan dapat mengoptimalkan proses bisnis PELNI dengan menghubungkan kantor pusat dan armada secara real-time, termasuk untuk pengambilan keputusan operasional, manajemen jadwal pelayaran, serta respons darurat. 

Di tengah meningkatnya mobilitas penumpang dan distribusi logistik nasional pada 2026, sistem komunikasi yang andal menjadi prasyarat utama bagi PELNI dalam menjaga ketepatan waktu layanan dan menekan risiko operasional.

Bagi BuanterOne, kerja sama ini memperkuat posisinya di pasar telekomunikasi satelit nasional, khususnya untuk segmen maritim yang membutuhkan konektivitas berlatensi rendah dan berdaya tahan tinggi. 

Sementara bagi PELNI, adopsi teknologi LEO menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun fondasi operasional berbasis data dan digital, sejalan dengan tuntutan industri maritim 4.0.

Baca Juga: Asia Tenggara Jadi Kunci Pertumbuhan, ManageEngine akan Rekrut Talenta Baru

Selanjutnya: KKP Kawal Hibah AS US$35 Juta, Konservasi Terumbu Karang Masuk Agenda Ekonomi Biru

Menarik Dibaca: Kesehatan Kerja: 5 Risiko yang Fatal Akibat Duduk Lama di Depan Laptop

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×