kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Pemerintah bakal subsidi pakan & benih ikan Rp 200 miliar


Selasa, 08 Februari 2011 / 12:25 WIB
ILUSTRASI. Kampus Hyderabad Amazon di India


Reporter: Veri Nurhansyah Tragistina | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Kementerian Kelautan & Perikanan (KKP), bakal memberikan subsidi kepada para petani sebanyak Rp 200 miliar. Rinciannya, sebanyak Rp 150 miliar untuk subsidi pakan dan sisanya ditujukan untuk subsidi benih.

Ketut Sugama, Pelaksana Tugas (plt) Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP mengatakan anggaran subsidi tersebut kemungkinan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional Perubahan (APBN-P) tahun 2011. "Jadi, kemungkinan subsidi ini baru bisa direalisasikan pada Semester II-2011 nanti," ujar Ketut, Senin (7/2).

Pemberian subsidi ini didasarkan pada harga pakan dan benih yang terus meningkat akhir-akhir ini. Pembudidaya di seluruh daerah banyak yang merugi karena sekitar 60% biaya pembudidayaan dialokasikan untuk biaya pakan. "Banyak petani seperti di Kampung Gurame Banyumas yang terus merugi karena harga pakan mahal," ujar Ketut.

Sebelumnya, Thomas Dharmawan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), mengatakan harga pakan di Indonesia lebih mahal dibandingkan Thailand. Harga pakan di Indonesia bisa mencapai Rp 7.000 per kilogram (kg). Padahal, harga pakan di Thailand dan Vietnam hanya sekitar Rp 4.000-Rp 5.000/kg. "Petani kita harus bayar lebih besar. Akibatnya harga ikan kita tidak kompetitif dibanding negara lain," ujar Thomas kepada KONTAN, belum lama ini.

Denny D. Indradjaja, Ketua Divisi Pakan Aquaculture Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT), menjelaskan harga pakan di Thailand bisa lebih murah karena tarif listrik dan bahan bakar minyak (BBM) di sana lebih rendah. Situasi tersebut berkebalikan dengan Indonesia. Produsen pakan di sini mesti membayar listrik dengan harga yang mahal. Produsen pun harus menggunakan solar untuk industri yang tanpa subsidi. "Efeknya harga pakan kita lebih mahal 5% dibanding Thailand," ujar Denny.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×