kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pemerintah Bidik Proyek PLTA di Papua Untuk Produksi Hidrogen


Kamis, 22 Februari 2024 / 15:31 WIB
Pemerintah Bidik Proyek PLTA di Papua Untuk Produksi Hidrogen
ILUSTRASI. Pengerjaan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)


Reporter: Filemon Agung | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pemerintah membidik pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Papua yang berpotensi dikembangkan untuk menghasilkan hidrogen dan amonia. 

Plt Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Jisman Hutajulu menjelaskan, potensinya PLTA tersebut mencapai 8 giga watt (GW) hingga 10 GW. Meski demikian, proyek ini masih menemui tantangan dari sisi serapan produksi listrik yang minim. 

"Demand-nya kecil di sana. Apakah nanti industri kita datangkan ke sana ketika mau bangun PLTA, karena kan semakin besar keekonomian-nya kan harga listriknya semakin turun," terang Jisman di Jakarta, Rabu (21/2). 

Jisman melanjutkan, proyek PLTA ini berpeluang besar dikembangkan untuk memproduksi hidrogen dan amonia yang bisa digunakan untuk ekspor maupun kebutuhan domestik. 

Baca Juga: Bendungan Bulango Ulu Karya Brantas Abipraya Bakal Beri Manfaat Bagi Warga Gorontalo

"Pak Menteri (ESDM) sudah memikirkan ke situ, segera dimanfaatkan dan salah satunya adalah untuk hidrogen dan amonia, dibuat studinya gitu ya," tambah Jisman.  

Jisman melanjutkan, pihak Jepang sudah menyatakan minat untuk terlibat dalam proyek hidrogen di PLTA tersebut asalkan harga listriknya disekitar US$ 4 sen per kWh. 

Sementara itu, Direktur Utama PLN Indonesia Power Edwin Nugraha Putra mengungkapkan, pihaknya besar kemungkinan terlibat sebagai offtaker untuk hasil produksi hidrogen disana. 

Menurutnya, dengan potensi listrik yang melimpah, dibutuhkan kehadiran industri untuk menyerap produksi listrik dari PLTA tersebut. 

"Itu sangat besar sekali dan memerlukan industri yang menyerap energi tersebut. Salah satu kemungkinnya kita buka pabrik hidrogen di sana jadi air yang ada di sana bisa kita pakai proses elektro bisa air diubah jadi oksigen dengan hidrogen dengan memakai energi dari pembangkit PLTA yang ada di sana seperti itu," ungkap Edwin. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×