Reporter: Hervin Jumar | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah mengklaim kesiapan menghadapi ancaman El Nino ekstrem yang disebut “Godzilla” dengan mengandalkan stok beras nasional yang melimpah. Namun, di tengah optimisme tersebut, risiko penurunan produksi dan tekanan terhadap ekonomi pertanian dinilai tetap membayangi sepanjang musim kemarau tahun ini.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut cadangan beras nasional diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan hingga 15 bulan ke depan, atau setidaknya sampai awal 2027 saat musim hujan kembali datang.
“Sisa 15 bulan. Sampai Maret sudah musim hujan, sudah sampai Februari sudah musim hujan lagi,” kata Amran dalam keterangannya, dikutip pada Kamis (2/4/2026).
Perhitungan ini mengacu pada Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Perum Bulog yang saat ini mencapai sekitar 4,3 juta ton dan berpotensi meningkat menjadi 5 juta ton.
Selain itu, stok beras di masyarakat serta sektor hotel, restoran, dan katering diperkirakan mencapai 12,5 juta ton, dengan tambahan potensi dari standing crop sekitar 11 juta ton.
Baca Juga: Stok Beras Tembus 4,3 Juta Ton, Pemerintah Siap Hadapi Kemarau 2026
Amran juga membeberkan produksi tetap berjalan selama periode kemarau.
“Kalau enam bulan tambah enam bulan lagi produksi dua juta berarti itu 12 juta ton. Di saat musim kemarau, El Nino, Godzilla dan seterusnya itu produksi 12 juta ton,” jelasnya.
Ia menilai kesiapan pemerintah saat ini lebih baik dibandingkan pengalaman sebelumnya.
“Jadi persiapan kita jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Karena sebelumnya kita mengantisipasi satu sisi pangan kita impor, sekarang stok kita banyak,” tambah Amran.
Di sisi lain, pemerintah memperkuat bantalan stok pangan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) terus dipercepat melalui penyerapan produksi domestik.
Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyebut langkah ini menjadi bagian dari antisipasi menghadapi El Nino ekstrem.
“Adanya prediksi "Godzilla" El Nino telah menjadi perhatian pemerintah. Kami memastikan ketahanan stok CPP terus diperkuat agar nanti saat diperlukan, bisa segera disalurkan untuk membantu masyarakat,” ungkap Ketut minggu lalu.
Hingga akhir Maret 2026, stok beras yang dikelola Bulog tercatat lebih dari 4 juta ton, meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu.
Pemerintah juga memperkuat stok komoditas lain seperti jagung, minyak goreng, gula, hingga daging untuk menjaga stabilitas pasokan.
Baca Juga: Pasokan Pangan Pascalebaran Terjaga, Stok Beras Bulog Tembus 3,7 Juta Ton
Kendati stok dinilai aman, tekanan terhadap sektor pertanian tetap berpotensi muncul.
Diketahui sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi fenomena El Nino tahun ini akan beriringan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang memicu kemarau lebih panjang dan kering
Peneliti iklim BRIN, Erma Yulihastin, mengingatkan pemerintah perlu mewaspadai dampak ganda yang muncul. Kekeringan dapat meningkatkan biaya produksi, memperbesar risiko gagal panen, serta mengganggu distribusi di sejumlah wilayah.
“Selain itu, dampak karhutla di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi. Namun, di saat yang bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi-Halmahera-Maluku dan dampaknya terhadap banjir dan longsor,” tulis Erma Yulihastin dalam unggahan @brin_indonesia di Instagram.
Baca Juga: Stok Beras Bulog Tembus Rekor Tahun Ini, Ini Catatan Akademisi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













