kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.831   13,00   0,07%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Pemerintah Minta PLN Hemat Subsidi Rp 10 triliun


Jumat, 20 Maret 2009 / 10:20 WIB


Reporter: Gentur Putro Jati | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Pemerintah meminta PT PLN (Persero) untuk dapat menghemat penggunaan subsidi listrik 2009 sebesar Rp 10 triliun.

Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jacobus Purwono menjelaskan, penghematan sebesar itu bisa dikejar PLN akibat menurunnya konsumsi listrik dari pelanggan industri akibat krisis ekonomi global.

"Penurunan konsumsi listrik industri karena pabrik-pabrik itu melakukan banyak efisiensi akibat krisis. Selain efisiensi, juga karena permintaan menurun," kata Purwono, Kamis (19/3).

Menurut Purwono, dengan menurunnya konsumsi listrik tersebut, BUMN ketenagalistrikan itu bisa menghemat biaya operasionalnya. Selain dari penghematan biaya operasional, penghematan juga bisa dilakukan PLN melalui penurunan susut daya, penerapan tarif nonsubsidi, optimalisasi penggunaan gas, penggantian solar ke minyak bakar, dan peningkatan penggunaan batubara dan bahan bakar nabati (BBN).

"Jumlahnya sekitar Rp 10 triliun, tapi itu baru hitungan kasar," tambahnya.

Sekadar mengingatkan, subsidi listrik yang ditetapkan dalam APBN 2009 sebesar Rp 41,86 triliun. Alokasi subsidi tersebut ditetapkan dengan asumsi harga ICP US$ 45 per barel dan kurs Rp 11.000 per dolar. Saat ini Pemerintah sedang mengajukan tambahan subsidi listrik dalam RAPBN Perubahan 2009. Yaitu tambahan subsidi daya maximum Rp 1,38 triliun plus sisa subsidi 2007 yang telah diaudit sebesar Rp 4,41 triliun. Sehingga alokasi subsidi 2009 menjadi Rp 47,64 triliun.

Gentur Putro Jati

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×