kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.652.000   21.000   0,80%
  • USD/IDR 16.889   19,00   0,11%
  • IDX 8.948   63,58   0,72%
  • KOMPAS100 1.240   13,93   1,14%
  • LQ45 879   12,32   1,42%
  • ISSI 327   2,65   0,82%
  • IDX30 449   8,13   1,84%
  • IDXHIDIV20 531   10,57   2,03%
  • IDX80 138   1,59   1,17%
  • IDXV30 147   2,50   1,73%
  • IDXQ30 144   2,26   1,60%

Peneliti Indef: Penurunan BBM tak hanya perhatikan harga minyak mentah


Jumat, 20 Maret 2020 / 07:40 WIB
Peneliti Indef: Penurunan BBM tak hanya perhatikan harga minyak mentah
ILUSTRASI. Ilustrasi harga BBM


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) mengemuka sejalan dengan tren penurunan harga minyak mentah dunia yang kini bergerak di level US$ 20- US$ 30 per barel. Pemerintah pun tengah mengkaji dampak dari penurunan harga minyak terhadap perekonomian, juga terhadap potensi penyesuaian harga BBM.

Namun, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai, penurunan harga BBM di tengah tekanan pandemi virus corona bukan lah hal yang sederhana. 

Peneliti Indef Abra P. G. Talattov mengatakan, harga minyak dunia yang turun signifikan memang menjadi momentum untuk menurunkan harga BBM. Apalagi, di tengah pandemi virus corona, penurunan harga BBM bisa menjadi stimulus langsung yang diterima masyarakat luas. 

Baca Juga: Harga BBM Pertamina bisa turun kalau harga minyak tetap rendah di akhir bulan ini

"Ini bisa mengkompensasi pengeluaran masyarakat, menjadi stimulus langsung yang bisa menjaga daya beli. Ditambah momentum penurunan harga minyak, ada semacam justifikasi pemerintah mempertimbangkan penurunan harga BBM," katanya kepada Kontan.co.id, Kamis (19/3).

Hanya saja, Abra mencatat ada sejumlah pertimbangan lain yang harus dicermati pemerintah. Antara lain, sebagai efek gulir virus corona, penurunan harga minyak dunia saat ini dibarengi dengan melemahnya kurs rupiah yang kini bergerak menuju Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini tentu bakal menjadi pertimbangan penting bagi badan usaha penjual BBM maupun bagi pemerintah yang menghitung dampaknya secara ekonomi makro.

Di sisi lain, pemerintah juga pasti akan berhitung dari sisi potensi kehilangan penerimaan negara. Abra menerangkan, ancaman nyata jika harga minyak terus menurun ialah target penerimaan negara, baik pajak maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor migas berpotensi kembali meleset dari target.




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×