kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Pengamat IPB pesimistis stok akhir Bulog capai 1,3 juta ton tahun ini


Kamis, 21 November 2019 / 20:50 WIB
Pengamat IPB pesimistis stok akhir Bulog capai 1,3 juta ton tahun ini
ILUSTRASI. Pekerja mengangkut stok beras BULOG untuk didistribusikan ke pasar-pasar di Gudang Sub-Divre BULOG Serang, di Serang, Banten, Jumat (10/5/2019). Kepala BULOG setempat Renato menegaskan pihaknya masih memiliki stok 6 ribu ton beras yang mencukupi untuk keb

Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun depan, Perum Bulog menargetkan akan mengadakan beras di dalam negeri sebesar 1,3 juta ton. Target tersebut dengan asumsi stok awal Bulog mencapai 1,3 juta ton di 2020.

Melihat ini, Pengamat Pertanian yang juga Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menilai Bulog akan sulit mencapai stok akhir sebesar 1,3 juta ton saat ini.

Baca Juga: Bulog targetkan serap 1,6 juta ton beras di tahun depan

Pasalnya, hingga 18 November Bulog masih memiliki stok sebanyak 2,24 juta ton sementara waktu yang tersisa hingga akhir Desember kurang dari 2 bulan.

"Saya kira tidak mungkin dalam tempo 40 hari Bulog mampu menggelontorkan  beras ke masyarakat sampai 1 juta ton. Ini tidak pernah terjadi," ujar Dwii, Kamis (21/11).

Menurut Dwi, untuk menggelontorkan beras hingga 1 juta ton, maka dibutuhkan upaya ekstra, di mana tempat tujuan penyaluran beras pun sudah jelas. Masalahnya, hingga saat ini sarana penyaluran beras Bulog hanya berupa program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) dan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Baca Juga: Khawatir utang membengkak, Bulog baru menyerap beras 1,1 juta ton

Lebih lanjut Dwi memperkirakan Bulog bisa saja hanya memiliki stok beras kurang dari 1 juta ton di Januari. "Karena nanti puncak defisit sekitar Januari, sehingga pasar ada kemungkinan kekosongan beras, sehingga Bulog bisa menggelontorkan beras," terang Dwi.

Bulog juga menargetkan pengadaan Bulog tahun depan bisa mencapai 1,6 juta ton. Dwi mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir Bulog sulit untuk mencapai target. Salah satu kendalanya disebabkan rendahnya harga pembelian gabah/beras pemerintah yang ditetapkan dalam inpres 5 tahun 2015.

Baca Juga: Kepada DPR, Buwas laporkan bahwa Gatot Trihargo jadi Wakil Dirut Bulog

"Ini bukan murni kesalahan Bulog. Bulog kan terikat pada Inpres. HPP beras dan gabah yang masih Rp 3.700 per kg itu tidak masuk akal. Tidak akan mungkin lagi harga gabah di level Rp 3.700 per kg. Kalau direlaksasi 10% menjadi Rp 4.070 pun tidak mungkin. Di situ letak kesulitan Bulog menyerap sesuai target," terang Dwi.


Tag


TERBARU

Close [X]
×