kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Pengamat: Kegiatan operasional Freeport bisa menambah hutang Inalum


Minggu, 15 Juli 2018 / 17:51 WIB
Pengamat: Kegiatan operasional Freeport bisa menambah hutang Inalum
ILUSTRASI. Kesepakatan divestasi PT Freeport


Reporter: Pratama Guitarra | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebagai pemilik saham mayoritas sebesar 51% di PT Freeport Indonesia (PTFI). Holding industri pertambangan yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) akan menanggung biaya-biaya investasi yang akan keluar.

Seperti halnya kegiatan-kegiatan operasional tambang bawah tanah untuk mencapai produksi penuh, yang sebelumnya diprediksi oleh Freeport Indonesia ditahun 2021 dengan menggunakan metode block caving. Biaya investasinya bisa mencapai di atas US$ 10 miliar.

Jika investasi itu tidak keluar, maka metode block caving ini akan tersendat dan mempengaruhi produksi tambang bawah tanah. Pasalnya bila terhenti, akan terjadi peningkatan tegangan dan mengakibatkan runtuhnya terowongan, sehingga menyebabkan kerugian yang sangat besar.

Direktur Eksekutif Centre for Resources Strategic Studies (Ciruss), Budi Santoso membenarkan bahwa selain nilai hutang akuisisi sebesar US$ 3,85 miliar itu, Inalum masih perlu menyiapkan dana untuk belanja modal atau capedital expenditure (capex).

"Selain tanggung jawab membangun smelter, Inalum juga harus mempertahankan produksi dengan membangun underground mining melalui metode block caving," terangnya kepada Kontan.co.id, Minggu (15/7).

Tetapi, kata Budi, metode block caving merupakan acuan investasi yang harusnya dikeluarkan oleh Freeport Indonesia. Namun, secara proporsional, Inalum selaku mayoritas pemegang saham 51% pastinya ikut mengeluarkan pendanaan. 

"Jika metode itu mahal, pemerintah punya hak untuk me-review lagi rencana investasinya supaya bisa lebih rendah," tandasnya. Dengan demikian ia menyarankan, Inalum tidak hanya menjadi pemegang saham saja, melainkan menjadi operator. 

Senada, pengamat hukum sumber daya alam dari Universitas Tarumanegara (Untar), Ahmad Redi mengatakan, tidak hanya menyiapkan dana untuk investasi.

Inalum juga pastinya membutuhkan dana yang lebih besar untuk pengelolaan tambang Grasberg. Itu supaya, produksi tembaga maupun emas tidak turun. "Intinya pasti Inalum akan berhutang. Yang paling besar untuk underground mining-nya," kata Redi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×