Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebut transportasi pengiriman untuk ekspor minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) berpotensi tertekan seiring eskalasi konflik Israel–Iran akhir-akhir ini.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, tensi global berpotensi memicu hambatan transportasi dalam pengiriman CPO nasional.
“Pengiriman ekspor akan terganggu, kalau ekspor terganggu kemungkinan ada kemungkinan stok dalam negeri meningkat,” ujar Eddy saat dihubungi Kontan, Senin (2/3/2026).
Baca Juga: PLN Salurkan 23.040 Unit REC Listrik Hijau ke PT Borneo Indobara
Dengan begitu, jika stok yang melimpah dibiarkan terlalu lama di dalam negeri, ia menilai proses di hulu juga akan terganggu.
Dengan adanya risiko dampak ini, menurutnya, sulit bagi pelaku usaha untuk menyiapkan langkah antisipatif. “Karena yang menjadi masalah adalah hambatan transportasi, jadi ini agak sulit,” katanya.
Lebih lanjut, GAPKI mencermati tensi konflik geopolitik yang memanas juga mendorong fluktuasi harga CPO global.
Di sisi lain, GAPKI mencatat, total volume ekspor ke Timur Tengah sepanjang 2025 mencapai 1,83 juta ton. Ekspor ke Iran sendiri sebenarnya tak begitu signifikan, yakni mencapai 24,17 ribu ton dengan nilai ekspor US$ 29,22 juta.
Senada, Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) Mansuetus Darto menyebut porsi ekspor ke Iran relatif kecil dibanding total ekspor nasional, sehingga tak menjadi pasar dominan.
Oleh karena itu, menurut Darto, risiko konsentrasi pasar ke kawasan konflik tergolong rendah.
Ia mengatakan, kawasan Timur Tengah secara agregat menyerap sekitar 5–8% dari total ekspor CPO dan produk turunannya.
Baca Juga: Proyek Gas Mako Resmi Masuk Tahap Investasi, Produksi Ditargetkan 2027
“Negara tujuan utama biasanya Pakistan, Bangladesh (meskipun secara geografis Asia Selatan), serta beberapa negara Teluk,” ujarnya kepada Kontan, dihubungi terpisah.
Menurutnya, perang lebih berpotensi menjadi sentimen jangka pendek yang mempengaruhi volatilitas harga, alih-alih mengganggu volume ekspor secara signifikan."Industri sawit kita relatif resilien karena pasar ekspor yang terdiversifikasi," jelas Darto.
Untuk mengoptimalkan ekspor, penguatan hilirisasi juga dinilai krusial agar pengiriman tak hanya berbentuk CPO mentah, tetapi juga produk turunan bernilai tambah. "Efisiensi biaya produksi juga penting untuk menjaga daya saing ketika harga global tertekan," imbuh Darto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













