kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.919   -9,00   -0,05%
  • IDX 6.197   78,32   1,28%
  • KOMPAS100 798   9,62   1,22%
  • LQ45 610   7,00   1,16%
  • ISSI 217   4,39   2,06%
  • IDX30 338   2,29   0,68%
  • IDXHIDIV20 432   2,76   0,64%
  • IDX80 91   1,06   1,18%
  • IDXV30 118   1,48   1,27%
  • IDXQ30 110   0,53   0,48%

Penjualan Alat Berat Intraco Penta (INTA) Turun, Bisnis Rental Berkontribusi 25%


Selasa, 06 Oktober 2026 / 15:04 WIB
Penjualan Alat Berat Intraco Penta (INTA) Turun, Bisnis Rental Berkontribusi 25%
ILUSTRASI. Alat berat PT Intraco Penta Tbk (INTA). (DOK/INTA)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Intraco Penta Tbk (INTA) menghadapi tekanan bisnis alat berat sepanjang 2026. Target pertumbuhan pendapatan dobel digit yang dipatok pada awal tahun kini diproyeksikan tidak tercapai.

Direktur PT Intraco Penta Tbk (INTA) Willianto Febriansa mengatakan, pendapatan perusahaan tahun ini diproyeksikan menurun dibandingkan periode tahun sebelumnya. Padahal, pada awal 2026, INTA menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 10%-15% dibandingkan 2025.

"Diproyeksikan pertumbuhan pendapatan tidak seperti yang ditargetkan di mana tingkat pendapatan menurun jika dibandingkan dengan periode tahun lalu," kata Willianto kepada Kontan, Selasa (6/10/2026).

Baca Juga: Astra Otoparts (AUTO) Terus Perluas Pasar Aspira

Sebelumnya, INTA memang telah mengantisipasi tantangan industri alat berat pada 2026. Salah satunya terkait kebijakan pemerintah memangkas target volume produksi sejumlah komoditas tambang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Kondisi tersebut dikhawatirkan mendorong perusahaan tambang melakukan efisiensi, termasuk dalam pengadaan alat berat. Maklum, sektor pertambangan masih menjadi pasar utama INTA, terutama segmen batubara.

Karena itu, INTA sejak awal tahun menyiapkan strategi diversifikasi pasar sekaligus meningkatkan kontribusi bisnis persewaan alat berat dan truk.

Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Di tengah penurunan penjualan alat berat, bisnis persewaan justru mencatat pertumbuhan positif. Kontribusi bisnis rental bahkan telah mencapai 25% dari total penjualan perusahaan.

"Di tengah menurunnya penjualan alat berat, bisnis persewaan alat menunjukkan pertumbuhan yang baik dan berkontribusi sebesar 25% dari total penjualan," ujar Willianto.

Realisasi tersebut melampaui target awal INTA yang memproyeksikan bisnis rental alat berat dan truk menyumbang sekitar 20% terhadap pendapatan perusahaan pada 2026.

Sebelumnya, bisnis persewaan memang menjadi salah satu lini yang tumbuh signifikan bagi INTA. Hingga September 2025, pendapatan jasa persewaan melonjak 4.836,79% secara tahunan menjadi Rp 156,99 miliar dari sebelumnya Rp 3,18 miliar.

Baca Juga: Airlangga Ungkap Penggunaan AI di Vale (INCO) Tambah Produksi Nikel 182 Ton per Tahun

Pada tahun ini, INTA juga berupaya mengurangi ketergantungan terhadap sektor batubara dengan mengembangkan pasar di sektor semen, forestry, nikel, dan emas.

Willianto menyebut perkembangan diversifikasi pasar tersebut positif. Kontribusi batubara terhadap penjualan INTA telah menurun dibandingkan periode sebelumnya.

"Perkembangannya sangat positif, saat ini kontribusi dari sektor batubara trennya menurun dari periode sebelumnya sebesar 60% menjadi 56% pada periode tahun 2026 ini," ungkapnya.

Sebagai gambaran, pada awal tahun kontribusi batubara terhadap pendapatan INTA masih sekitar 63%. Sementara nikel berkontribusi 14%, semen 9%, emas 5%, kehutanan 4%, dan sektor lainnya 5%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×