Reporter: Vina Elvira | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten kemasan plastik, PT Berlina Tbk (BRNA), masih melihat peluang pertumbuhan bisnis hingga akhir 2026 di tengah volatilitas harga bahan baku yang menjadi salah satu tantangan utama industri kemasan.
Presiden Direktur Berlina Pujihasana Wijaya mengatakan, kondisi industri kemasan saat ini masih diwarnai volatilitas harga bahan baku dan pasokan yang belum sepenuhnya stabil.
“Situasi ini menjadi tantangan dalam mengelola biaya produksi dan menjaga margin," ujar Pujihasana kepada Kontan, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga: Kesenjangan Penguasaan Kecerdasan Buatan Guru dan Siswa Jadi Tantangan Pendidikan
Kenaikan harga bahan baku, khususnya biji plastik, telah memberikan tekanan terhadap margin BRNA. Perusahaan sendiri memilih untuk menanggung sebagian dampak kenaikan biaya tersebut guna menjaga keseimbangan dengan pelanggan.
Merujuk laporan keuangan perusahaan, penjualan neto BRNA tercatat sebesar Rp 600,28 miliar per semester I-2026. Angka ini meningkat 15,72% dibandingkan Rp 518,72 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi bottom line, perusahaan harus menanggung kerugian sebesar Rp 2,42 miliar pada periode ini. Padahal, di tahun sebelumnya perusahaan masih mencetak laba bersih Rp 15,27 miliar.
Menurut Pujihasana, penyesuaian harga jual menjadi salah satu langkah industri untuk meredam tekanan dari kenaikan biaya bahan baku. Berlina juga meningkatkan koordinasi dengan pelanggan agar proses penyesuaian harga dapat berjalan lebih baik.
"Berlina terus meningkatkan intensitas koordinasi dengan pelanggan agar penyesuaian tersebut dapat dikelola dengan lebih baik serta meminimalkan dampak dan biaya tambahan yang tidak perlu," lanjutnya.
Dari sisi permintaan, perkembangan order BRNA hingga kuartal III-2026 masih bervariasi di antara pelanggan. Sebagian pelanggan mencatatkan permintaan di atas ekspektasi, sementara sebagian lainnya masih berada di bawah ekspektasi awal.
Meski demikian, secara keseluruhan volume penjualan Berlina dalam tonase hingga saat ini masih berada sesuai target untuk periode berjalan. Kondisi tersebut menjadi salah satu penopang bagi perusahaan dalam menjaga kinerja bisnis hingga akhir tahun.
Baca Juga: Wartsila Dorong Fleksibilitas Listrik Indonesia
Dari sisi pendapatan, BRNA menyebut realisasi hingga saat ini telah melampaui target untuk periode berjalan. Asal tahu saja, perseroan menargetkan penjualan sebesar Rp 1,05 triliun di sepanjang tahun ini,
Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan peningkatan volume karena turut dipengaruhi penyesuaian harga jual sebagai respons terhadap kenaikan harga bahan baku.
Sementara itu, dari sisi profitabilitas, rasio margin BRNA mengalami koreksi dibandingkan target. Meski demikian, perseroan masih memperkirakan laba tahun 2026 dapat tumbuh dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.
"Di sisi profitabilitas, rasio margin mengalami koreksi dibandingkan target. Meski demikian, perusahaan memperkirakan kinerja laba tahun ini masih akan lebih baik dibandingkan tahun lalu," ujar Pujihasana.
Di tengah tekanan biaya bahan baku, Berlina tidak mengubah arah ekspansinya. BRNA tetap melanjutkan investasi sejalan dengan pertumbuhan pasar yang dilayani.
Ia mengatakan, investasi tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan pelanggan sekaligus menangkap peluang pertumbuhan yang tersedia di pasar kemasan.
Memasuki 2027, BRNA juga telah menyiapkan rencana ekspansi dan pengembangan lini produk baru. Langkah tersebut disiapkan sebagai bagian dari upaya perseroan memperluas peluang pertumbuhan bisnis.
"Untuk 2027, Berlina menyiapkan rencana ekspansi serta pengembangan lini produk baru. Rencana tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk memperluas peluang pertumbuhan," pungkas Pujihasana.
Baca Juga: Solusi Bangun (SMCB) Angkat Daniel Tumpal Simanjuntak sebagai Komisaris Utama
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














