Reporter: Vina Elvira | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri farmasi nasional mulai mencermati dampak konflik geopolitik global terhadap rantai pasok, khususnya bahan baku dan material kemasan. Hal ini turut dirasakan oleh emiten farmasi, PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA).
Presiden Direktur Darya-Varia, lan Kloer menyebut situasi geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, berpotensi mempengaruhi ketersediaan bahan baku farmasi.
“Yang pasti seperti juga halnya industri-industri lain ada pasti dampaknya pada raw material, packaging material, ada kenaikan pasti di situ ada dampaknya,” ungkap Ian, saat dijumpai media, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga: Ini Strategi Darya-Varia (DVLA) Capai Pertumbuhan Kinerja di Atas Rata-Rata Pasar
Menurutnya, kenaikan harga bahan baku dan material kemasan menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan. Namun, industri farmasi bersama pemerintah dan asosiasi terus melakukan koordinasi untuk memitigasi dampak tersebut.
Meski demikian, pihaknya masih masih optimistis mampu menjaga ketersediaan obat di dalam negeri dengan berbagai langkah antisipasi rantai pasok. Sebagai langkah mitigasi, DVLA telah mengamankan pasokan bahan baku dan kemasan untuk menghindari potensi kelangkaan obat di pasar.
“Dan saya yakin beberapa industri juga sudah mengantisipasi situasi supply untuk mengamankan agar obat-obatan di Indonesia tetap bisa terus tersedia dan sehingga meminimalkan juga jangan sampai ada terjadi kekurangan supply,” tambahnya.
Baca Juga: Penjualan usmile Indonesia Meningkat 182% Saat Ramadan
Terkait potensi kenaikan harga, manajemen menilai belum ada urgensi penyesuaian signifikan dalam waktu dekat. Meski begitu, tekanan biaya produksi tetap menjadi perhatian, terutama pada segmen yang berkaitan dengan program pemerintah seperti BPJS.
“Tapi khususnya kalau kita bicara dari sisi BPJS dan segala macam tentunya itu akan menjadi tekanan juga karena biaya produksinya semakin naik,” katanya.
Di tengah dinamika tersebut, DVLA tetap membidik pertumbuhan kinerja di atas rata-rata pasar pada 2026. Target ini sejalan dengan strategi perusahaan yang mengandalkan diversifikasi bisnis dan inovasi produk.
Baca Juga: Pasar Otomotif RI Mulai Bergeser ke EV, Kemenperin: Merek Jepang Harus Adaptif
Untuk mencapai target tersebut, perusahaan juga mulai memperluas portofolio bisnis, termasuk ke segmen alat kesehatan sebagai sumber pertumbuhan baru.
"Dengan semua tantangan yang ada kami tetap berupaya untuk ya dengan melalui diversifikasi bisnis, dengan pendekatan seperti saat ini kami juga memperkenalkan alat kesehatan dan beberapa bidang bisnis lainnya, kita mencoba untuk mengompensasi situasi yang ada dan berupaya untuk tetap bertumbuh di atas rata-rata pasar,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













