Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pengolahan susu (IPS) turut terdampak oleh kenaikan harga bahan baku dan kemasan, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolahan Susu (AIPS), Sonny Effendy mencermati, naiknya harga semua bahan baku susu dan menguatnya kurs dolar Amerika Serikat (AS) saat ini membuat biaya produksi membengkak. Dus, pihaknya mau tak mau menyesuaikan harga jual di kuartal II-2026 ini.
Ia menyebut, semua harga bahan baku susu meningkat 17% hingga 34% sejak konflik Timur Tengah.
Baca Juga: Isu Narkotika Tekan Bisnis Vape, Industri Sebut Pertumbuhan Bisnis Terhambat
Belum lagi, konflik Timur Tengah juga mengerek harga kemasan yang dibutuhkan produk susu. “Kenaikan kemasan impor sebesar sekitar 20%,” jelas Sonny kepada Kontan, Minggu (26/4/2026).
Tak hanya itu, ia juga melihat daya beli masyarakat pun belum sepenuhnya pulih. Oleh karenanya, menurut Sonny, penjualan pada kuartal kedua ini bergantung pada keberlangsungan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejauh ini sangat membantu IPS domestik.
Efek dari program MBG ini tercermin dalam peningkatan penjualan susu pada kuartal I-2026, meskipun daya beli konsumen masih dinilai lemah.
Baca Juga: Penonton Usai Lebaran Ramai, MD Entertainment (FILM) Siapkan Deretan Film Baru
“Kinerja penjualan pada kuartal pertama ini meningkat 10% hingga 20% dibanding periode yang sama tahun lalu, tergantung IPS masing-masing,” jelas Sonny.
Adapun produksi susu segar dalam negeri saat ini masih sekitar 800.000 ton per tahun. Sonny bilang, kisaran ini sama dengan 18% terhadap kebutuhan bahan baku susu. Artinya, sekitar 82% yang belum terpenuhi membuat industri masih harus bergantung pada kebutuhan impor di tengah fluktuasi nilai tukar saat ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













