kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Penjualan emas Antam (ANTM) tumbuh 14,60% di semester I 2019


Kamis, 15 Agustus 2019 / 14:51 WIB

Penjualan emas Antam (ANTM) tumbuh 14,60% di semester I 2019
ILUSTRASI. Aneka Tambang ANTM

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terus mengoptimalkan penjualan emas. Pada periode Januari hingga Juni tahun ini Antam mencatat penjualan emas sebesar 15,7 ton tumbuh sebesar 14,60% dibandingkan volume penjualan periode yang sama tahun lalu 13,7 ton.

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo mengungkapkan komoditas emas menjadi bisnis inti bagi perusahaan selain nikel dan bauksit. Menurutnya, kenaikan harga emas dunia saat ini menjadi nilai strategis bagi ANTM.

Baca Juga: Ekspor nikel distop Jonan, Antam bisa kehilangan Rp 2 triliun

Pendapatan ANTAM dari penjualan emas pada semester pertama tahun ini sebesar Rp 9,61 triliun atau berkontribusi sebesar 67% dari total penjualan tahun semester pertama tahun ini.

Meski demikian, Arie menyebut belum ada rencana untuk merevisi target penjualan emas yang sudah ditargetkan tahun 2019.

Selama periode Januari hingga pertengahan Agustus 2019, harga jual emas ANTM juga berada pada tren kenaikan. “Pada Maret 2019 harga emas ANTM Rp 655.000 dan meningkat signifikan seharga Rp 759.000 per 15 Agustus 2019 untuk produk pecahan 1 gram,” paparnya, Kamis (15/8).

Sampai tutup tahun ini, perusahaan membidik produksi sebesar 2.036 kg dari tambang emas Pongkor dan Cibaliung dengan tingkat penjualan emas mencapai 32 ton.

Baca Juga: Harga emas spot masih berkilau di siang ini US$ 1.518,62 ons troi

Dengan terus mengalami kenaikan harga, ia menilai emas menjadi semakin menarik di mata masyarakat, untuk itu hal ini menjadi momen bagi mereka memaksimalkan penjualan.

Sebagai salah satu strateginya, Arie menambahkan ANTM tetap fokus dalam perluasan distribusi penjualan emas yang dilakukan melalui butik emas logam mulia dan channel yang ada. Tak hanya itu, ANTM juga meningkatkan nilai tambah produk melalui inovasi dengan produk-produk logam mulia.


Reporter: Ika Puspitasari
Editor: Noverius Laoli

Video Pilihan


×