kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45678,30   -12,83   -1.86%
  • EMAS911.000 -1,41%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Penurunan produksi beras nasional secara berturut-turut mengkhawatirkan


Selasa, 04 Februari 2020 / 19:42 WIB
Penurunan produksi beras nasional secara berturut-turut mengkhawatirkan
ILUSTRASI. Buruh tani dengan upah bagi hasil, merontokkan padi dengan cara konvensional saat panen padi di Desa Harjowinangun, Kecamatan Balapulang, Tegal, Jawa Tengah, Sabtu (11/5). Sistem Bawon ini sudah lazim dilakukan pada musim panen antara bulan April-Juni. Bu

Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras Indonesia di 2019 menurun sebesar 7,75% dibandingkan 2018 atau dari 33,94 juta ton menjadi 31,31 juta ton. Penuruan produksi beras secara berturut-turut ini patut diwaspadai karena akan berisiko membuat Indonesia tergantung pada impor.

Guru Besar Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, selama tiga tahun terakhir, produksi beras selalu mengalami penurunan, dimulai dari  tahun 2016 ke tahun 2017. Kemudian dari tahun 2017 produksi padi juga turun pada 2018. Demikian juga produksi pada 2018 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2019.

Baca Juga: Luas panen menyusut, BPS catat produksi beras turun menjadi 31,31 juta ton pada 2019 

"Sudah bisa dibayangkan ke depan, ketergantungan impor ini akan cukup tinggi," ujar Dwi saat dihubungi, Selasa (4/2).

Menurut Dwi, penurunan produksi di 2019 lebih tinggi dibandingkan proyeksinya selama ini. "Ini lebih besar dari perkiraan saya. Saya perkirakan penurunannya sekitar 2 juta ton, tetapi yang terjadi penurunannya 2,6 juta ton setara beras. Saya kira tren ini harus diwaspadai betul oleh pemerintah," tambah Dwi.

BPS melaporkan, sepanjang 2019 tercatat surplus beras sebesar 1,53 juta ton. Meski begitu, Dwi mengingatkan bahwa surplus tersebut terjadi sepanjang 2019. Dia menerangkan, ada wilayah yang mencatat surplus, tetapi ada juga wilayah yang mencatat defisit.

Baca Juga: Data produksi beras dirilis, Menko Luhut minta tidak ada perdebatan soal impor

Sehingga untuk memenuhi kebutuhan di wilayah yang defisit, dibutuhkan bantuan transportasi.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×