Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas yang masih tinggi mulai menekan permintaan emas di Indonesia. Konsumsi emas untuk perhiasan maupun pembelian emas batangan dan koin sama-sama mengalami penurunan pada kuartal III-2026.
Berdasarkan laporan World Gold Council (WGC) bertajuk Gold Demand Trends Q3 2026 yang dipublikasikan Selasa (3/11/2026), konsumsi emas untuk perhiasan di Indonesia tercatat 3,1 ton pada kuartal III-2026. Angka tersebut turun 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,8 ton.
Tekanan juga terlihat pada permintaan emas batangan dan koin. WGC mencatat, permintaan kategori tersebut di Indonesia mencapai 13,3 ton pada kuartal III-2026, turun 25% secara tahunan dari 17,7 ton pada kuartal III-2025. Angka tersebut juga turun 8% dibandingkan kuartal II-2026 yang mencapai 14,5 ton.
Baca Juga: Tarif Listrik Kuartal IV Ditahan, Likuiditas dan Investasi PLN Berpotensi Tertekan
Penurunan permintaan terjadi ketika harga emas dunia masih berada pada level tinggi. Harga emas berdasarkan London Bullion Market Association (LBMA) PM rata-rata mencapai US$4.262,2 per troy ounce pada kuartal III-2026, naik 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
WGC menilai, tingginya harga emas membuat konsumen di berbagai negara Asia Tenggara menyesuaikan pola pembelian perhiasan. Konsumen cenderung memilih perhiasan dengan bobot lebih ringan atau kadar emas lebih rendah agar tetap dapat membeli emas di tengah tekanan keterjangkauan harga.
“Konsumen Indonesia tetap berhati-hati di tengah kondisi ekonomi yang menantang,” ungkap WGC dalam laporannya, dikutip Kontan, Rabu (4/11/2026).
Tekanan permintaan perhiasan juga terjadi di sejumlah negara ASEAN. Permintaan emas perhiasan di Malaysia turun 21% secara tahunan menjadi 1,8 ton. Di Singapura, permintaan turun 17% menjadi 1,1 ton, sedangkan Thailand mencatat penurunan 10% menjadi 1,9 ton.
Penurunan terdalam terjadi di Vietnam. Permintaan emas perhiasan di negara tersebut anjlok 39% secara tahunan menjadi 1,4 ton. WGC menyebut tekanan keterjangkauan harga menjadi salah satu faktor yang mendorong konsumen memilih perhiasan dengan bobot lebih ringan atau kadar emas lebih rendah.
Permintaan Emas Batangan Turun
Pelemahan permintaan emas di Indonesia juga terjadi pada kategori investasi. Meski turun pada kuartal III, secara kumulatif permintaan emas batangan dan koin sepanjang Januari-September 2026 masih tumbuh.
WGC mencatat, permintaan emas batangan dan koin Indonesia mencapai 51 ton sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut tumbuh 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan demikian, penurunan pada kuartal III terjadi setelah permintaan emas batangan dan koin pada periode sebelumnya berada pada level yang relatif tinggi.
Secara global, permintaan emas batangan dan koin juga melemah. WGC mencatat permintaan kategori ini mencapai 267,8 ton pada kuartal III-2026, turun 19% secara tahunan.
WGC menyebut investor ritel global cenderung menunggu arah pergerakan harga yang lebih jelas sebelum melakukan pembelian. Pergerakan harga emas yang berada dalam rentang terbatas, ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama, serta kenaikan pasar saham turut mengurangi minat pembelian baru.
Nilai Permintaan Perhiasan Naik
Meski volume konsumsi emas perhiasan global turun, nilai permintaannya justru meningkat seiring kenaikan harga emas.
WGC mencatat konsumsi emas perhiasan global pada kuartal III-2026 mencapai 312,9 ton, turun 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 376,4 ton.
Namun, dari sisi nilai, permintaan perhiasan emas global justru naik 2% secara tahunan menjadi US$43 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan harga emas mampu mengompensasi penurunan volume pembelian.
Sepanjang Januari-September 2026, volume permintaan perhiasan emas global turun 19% menjadi 889 ton. Sementara itu, nilai permintaan meningkat 15% menjadi hampir US$130 miliar.
WGC menyebut tingginya harga emas menjadi salah satu faktor utama yang menekan permintaan perhiasan di berbagai pasar. Konsumen di sejumlah negara mulai beralih ke produk dengan kadar lebih rendah, bobot lebih ringan, atau ukuran lebih kecil.
Produksi Emas Indonesia Meningkat
Di tengah pelemahan permintaan konsumen, produksi tambang emas Indonesia justru meningkat. WGC mencatat produksi tambang emas Indonesia tumbuh 21% secara tahunan pada kuartal III-2026.
Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan kadar bijih dan volume produksi di operasi Batu Hijau milik PT Amman Resources. Selain itu, tambang emas Pani milik Merdeka Copper turut berkontribusi setelah menghasilkan emas pertama pada Februari 2026.
Pemulihan produksi di Grasberg juga menopang pertumbuhan produksi emas nasional.
Secara global, produksi tambang emas mencapai 1.070,9 ton pada kuartal III-2026. Angka tersebut tumbuh 3% secara tahunan dan menjadi rekor produksi untuk periode kuartal III.
Sementara itu, total pasokan emas global mencapai 1.368,6 ton pada kuartal III-2026, turun 1% secara tahunan. Pasokan dari aktivitas daur ulang juga turun 8% menjadi 314,5 ton, sekaligus menjadi level terendah dalam tiga tahun terakhir.
WGC menilai produksi tambang masih menjadi salah satu sumber pertumbuhan pasokan emas global, sementara respons pasokan dari aktivitas daur ulang masih terbatas.
Baca Juga: Ekspor Indonesia Tembus US$ 221 Miliar, Industri Pengolahan Jadi Penopang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














